Sorotjakarta,-
Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik, perang, hingga perubahan kebijakan ekonomi dunia menjadi tantangan serius bagi industri perkayuan nasional. Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKI), Dr. Ir. Bambang Soepijanto, MM, IPU menegaskan pentingnya kolaborasi antar pelaku usaha serta penerapan inovasi teknologi untuk menjaga daya saing industri pengolahan kayu Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya di sela-sela pameran International Furniture Manufacturing Components Exhibition (IFMAC) dan Woodworking Machinery Exhibition (WOODMAC). Menurut Bambang, inovasi dan teknologi modern kini menjadi kunci utama untuk meningkatkan efisiensi dan memberikan nilai tambah bagi produk perkayuan dalam negeri.
“Tantangan geopolitik dan ketidakpastian global karena perang serta kebijakan ekonomi dunia tentu membutuhkan kolaborasi yang baik di antara pelaku usaha. Pameran IFMAC dan WOODMAC kali ini menunjukkan bahwa inovasi dan teknologi menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi dan nilai tambah industri pengolahan kayu,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, kehadiran teknologi pemesinan terbaru yang dipamerkan merupakan bentuk solusi ramah lingkungan yang mampu menekan biaya produksi secara signifikan.
“Pemesinan ini menghadirkan teknologi yang ramah lingkungan dan menyebabkan efisiensi dalam biaya produksi. Harapannya, teknologi seperti ini terus ditingkatkan setiap tahun agar betul-betul ditemukan industri pengolahan kayu yang rendah emisi,” lanjutnya.
Soroti Ketatnya Sertifikasi
Ekspor ke Amerika dan Eropa
Selain efisiensi mesin, Bambang juga menyoroti tantangan ekspor yang dihadapi para pelaku industri perkayuan Indonesia, khususnya terkait ketatnya standar dan regulasi di pasar internasional seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Menurutnya, produk kayu Indonesia sebenarnya telah memenuhi standar kelestarian dan legalitas yang dipersyaratkan. Namun, negara tujuan ekspor kerap menambah persyaratan sertifikasi.
“Kebijakan dunia terkait bahan baku dari Indonesia sangat ketat. Di Amerika dan Eropa, mereka mempersyaratkan sertifikasi yang sebenarnya Indonesia sudah punya terkait legalitas dan kelestarian. Namun, mereka masih terus mempersyaratkan hal-hal baru,” jelas Bambang.
Kendati demikian, Bambang optimistis industri perkayuan nasional siap menjawab tantangan persaingan pasar global. Penggunaan mesin modern yang efisien dan ramah lingkungan dianggap sebagai langkah strategis untuk memenuhi kriteria ketat pasar internasional.
“Industri kita selalu berusaha memenuhi kriteria bahan baku yang ramah lingkungan dan memenuhi unsur kelestarian yang bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.(yr)
