September 24, 2026

Sorotjakarta,-
Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ) mendorong para pelaku UMKM furnitur dan mebel di Jepara untuk mulai melakukan modernisasi teknologi produksi. Langkah migrasi dari metode manual ke penggunaan mesin ini dinilai sangat krusial guna menekan Harga Pokok Penjualan (HPP) dan meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan pasar.

Ketua Umum APKJ, Andriyan Susanto, mengungkapkan bahwa asosiasi yang beranggotakan sekitar ratusan pelaku usaha berbasis produksi ini tengah menghadapi tantangan persaingan harga yang kian ketat.

“Perkembangan hari ini cukup menantang karena persaingan harga yang luar biasa. Hal ini memaksa kita untuk berpikir bagaimana UMKM ini me-upgrade dirinya ke penggunaan mesin,” ujar Andriyan saat ditemui di sela-sela pameran Ifmac & Woodmac Indonesia 2026.

Menurut Andriyan, selama ini sebagian besar pelaku UMKM furnitur masih bergantung pada pengerjaan manual berbasis tenaga manusia. Hal tersebut berdampak pada tingginya nilai HPP serta kurang efisiennya proses produksi. Dengan beralih ke teknologi mesin, produsen tidak hanya dapat menekan biaya produksi sehingga harga jual lebih kompetitif, tetapi juga dapat menjaga kestabilan kualitas produk.

“Untuk menghasilkan produk dengan nilai jual yang kompetitif, otomatis kita harus memproduksi dengan HPP yang rendah. Mau tidak mau, itu harus ditopang oleh mesin.

Selain itu, menjaga kestabilan kualitas juga lebih memungkinkan ketika kita menggunakan mesin sebagai basis produksi,” terangnya.

Tantangan Investasi dan Perubahan Mindset

Kendati modernisasi menjadi kebutuhan mendesak, Andriyan tidak menampik adanya tantangan besar yang dihadapi pelaku usaha skala kecil dan menengah, terutama terkait besarnya modal investasi alat.

Harga satu unit mesin produksi furnitur berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta, angka yang terbilang cukup berat bagi kapasitas finansial UMKM.
Meski demikian, APKJ melihat adanya sinyal positif dari para anggotanya. Mindset atau pola pikir para pengrajin dinilai sudah mulai terbuka dan melek terhadap perkembangan teknologi modern.

“Walaupun investasi mesin cukup mahal bagi UMKM kecil, beberapa anggota sudah mulai menyadari bahwa ini adalah sebuah keharusan. Kita dipaksa mengikuti pola industri. Jika terus bertahan pada produksi manual, kita akan kalah bersaing dengan kompetitor yang berbasis industri,” tegas Andriyan.

Kehadiran pengurus dan anggota APKJ pada pameran teknologi perkayuan Ifmac & Woodmac Indonesia 2026 ini menjadi salah satu bentuk komitmen asosiasi untuk mengenalkan teknologi mesin terbaru. APKJ berharap proses transformasi dan modernisasi ini dapat berjalan secara bertahap sehingga industri furnitur Jepara tetap relevan, efisien, dan tangguh di pasar global.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!