Sorotjakarta,-
Ketua Umum Himpunan Wanita Karya (HWK) Dany Soedarsono menegaskan pentingnya memperkuat peran perempuan dalam kehidupan sosial, politik, dan kebangsaan di tengah tantangan era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, perempuan harus tampil sebagai kekuatan strategis dalam membangun peradaban bangsa, bukan sekadar menjadi objek perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Dany Soedarsono dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) X Himpunan Wanita Karya Tahun 2026 yang dihadiri Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia bersama istri, Sri Suparni Bahlil Lahadalia, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji, para sesepuh dan tokoh pendiri HWK, jajaran pengurus, serta kader HWK dari berbagai daerah di Indonesia.Selasa, 3/11/2026.
Dalam sambutannya, Dany menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengurus serta kader HWK yang hadir secara langsung maupun daring dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.
Ia secara khusus mengapresiasi loyalitas dan kemandirian para peserta Munas yang datang dengan biaya masing-masing demi menjaga keberlangsungan organisasi.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu pengurus HWK seluruh Indonesia atas loyalitas yang begitu tinggi terhadap organisasi. Kehadiran dan kemandirian ini menunjukkan komitmen nyata untuk membesarkan HWK,” ujar Dany.
Mengangkat tema “Konsolidasi HWK dalam Penguatan Peranan Politik Perempuan di Era Digital”, Dany mengajak seluruh kader untuk tidak memandang berbagai persoalan bangsa sebagai sesuatu yang biasa atau business as usual.
Menurutnya, dunia saat ini tengah menghadapi berbagai ketidakpastian, mulai dari persoalan ekonomi global, krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan hingga persoalan sosial yang turut memberikan dampak besar terhadap kehidupan perempuan.
Dany menilai, salah satu persoalan mendasar yang harus menjadi perhatian adalah krisis moralitas dan kepemimpinan. Ia menyinggung pengalaman krisis keuangan global yang memperlihatkan bahwa persoalan suatu negara tidak hanya bersumber dari kelemahan sistem, tetapi juga perilaku dan moralitas para aktor yang menjalankannya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketimpangan ekonomi dan konsentrasi kekayaan dapat memperlebar kesenjangan sosial. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat kelompok masyarakat kecil, termasuk perempuan, menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Di balik berbagai krisis tersebut, salah satu kelompok yang paling menderita adalah kaum perempuan,” ungkapnya.
Perempuan Menghadapi Tantangan Sosial dan Digital
Dany menjelaskan, persoalan perempuan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ekonomi rumah tangga, tetapi juga menyangkut tergerusnya nilai sosial, budaya, kepercayaan, serta hubungan antargenerasi.
Ia menyoroti perkembangan media sosial yang kerap menjadi ruang pertarungan sosial atau civility war. Fenomena saling menghina, mencela, hingga penyebaran pesan seksual yang merendahkan martabat perempuan dinilai sebagai persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan.
Di sisi lain, perempuan juga menghadapi persaingan kompetensi yang semakin ketat di dunia kerja dan panggung publik.
Menurut Dany, perempuan seharusnya dinilai berdasarkan kapasitas, kemampuan, integritas, dan kontribusinya, bukan semata-mata penampilan fisik, kecantikan, ataupun citra yang dibangun di ruang publik.
Ia juga menyoroti kuatnya budaya patriarki yang masih memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan.
Padahal, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga, masyarakat, serta melahirkan generasi pemimpin bangsa yang berpegang teguh pada idealisme, nasionalisme, dan patriotisme.
“Perempuan yang berhasil bukan semata-mata perempuan yang mencapai kesuksesan bagi dirinya sendiri, melainkan juga perempuan yang mampu membentuk anak-anak dan masyarakat di lingkungannya menjadi pejuang yang mengutamakan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
HWK Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Wawasan
Lebih lanjut, Dany menegaskan bahwa tema Munas X HWK bukan sekadar slogan, melainkan menjadi landasan untuk memperkuat peran dan kontribusi organisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, konsolidasi HWK harus dilakukan melalui tiga aspek penting, yakni konsolidasi wawasan, konsolidasi organisasi, serta penguatan program dan aktivitas nyata.
Konsolidasi wawasan diperlukan agar kader HWK mampu menghadapi derasnya arus informasi digital yang tidak semuanya benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih, perkembangan teknologi dan AI membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi secara instan, tetapi belum tentu memahami persoalan secara mendalam.
Karena itu, HWK memiliki tanggung jawab untuk ikut melakukan pembelajaran publik agar masyarakat tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan filosofi yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Sementara konsolidasi organisasi diperlukan untuk memperkuat eksistensi, keterwakilan sosial, dan jejaring kelembagaan HWK di seluruh Indonesia.
Dany menegaskan HWK harus menjadi organisasi yang mandiri, memiliki karakter, serta tidak mudah diintervensi maupun diinfiltrasi oleh kepentingan di luar tujuan organisasi.
Perempuan Berperan Membangun Peradaban Bangsa
Dalam pidatonya, Dany juga menekankan bahwa penguatan peran perempuan sangat mendesak di tengah krisis kepercayaan yang berpotensi berkembang menjadi krisis kepemimpinan dan krisis peradaban.
Ia menjelaskan bahwa peradaban dibangun melalui proses panjang, mulai dari modal individual, berkembang menjadi modal sosial, modal politik, hingga modal ekonomi yang kemudian menghasilkan modal peradaban.
Dany mencontohkan batik sebagai salah satu produk budaya bangsa yang lahir dari kreativitas masyarakat dan menjadi identitas nasional. Dalam proses produksi, pemasaran, hingga perdagangan batik, perempuan memiliki kontribusi besar.
Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa perempuan bukan hanya berperan dalam menjaga nilai dan budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi serta perekat jaringan sosial masyarakat.
Karena itu, perkembangan digitalisasi dan AI harus disikapi secara fundamental, fungsional, dan struktural. Teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas perempuan tanpa menghilangkan nilai moral, budaya, dan keluhuran karakter bangsa.
Ia pun mengingatkan para pemimpin agar tidak mengabaikan suara hati nurani dan pemikiran perempuan dalam setiap proses pengambilan kebijakan.
Dany: Kepemimpinan Harus Dilandasi Amanah dan Kejujuran
Menjelang akhir sambutannya, Dany mengajak seluruh peserta Munas X HWK untuk menjadikan momentum ini sebagai titik kebangkitan organisasi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh kemasan atau jabatan semata, melainkan oleh kemampuan para pengurus dalam menjalankan amanah dengan baik, benar, berani, bertanggung jawab, dan jujur.
Menurutnya, kekuasaan dalam organisasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan keimanan, ilmu pengetahuan, serta kesediaan berkorban demi tegaknya harkat dan martabat perempuan Indonesia.
Dany juga mengajak seluruh kader HWK menyelenggarakan Munas dengan hati yang jernih, pikiran bersih, serta semangat kebersamaan melalui prinsip silih asuh, silih asah, dan silih asih.
“Mari kita selenggarakan Munas ini dengan hati yang jernih, pikiran yang bersih, dan niat yang didasarkan pada sikap silih asuh, silih asah, dan silih asih,” pesannya.
Ia berharap Munas X HWK Tahun 2026 mampu melahirkan keputusan strategis, memperkuat soliditas organisasi, serta meningkatkan kontribusi perempuan dalam pembangunan bangsa.
Menutup sambutannya, Dany menyampaikan pantun yang menggambarkan semangat persatuan dan kebangkitan perempuan Indonesia. (yr)
