September 23, 2026

Sorotjakarta,-
Kasus yang dikaitkan dengan penularan HIV menjadi perhatian publik. Dari perspektif kesehatan masyarakat, kasus tersebut dinilai perlu dijadikan momentum untuk meningkatkan edukasi dan literasi HIV, bukan menjadi alasan untuk memberikan stigma kepada orang dengan HIV maupun kelompok tertentu.

HIV tidak ditularkan karena seseorang memiliki orientasi seksual tertentu. Penularan HIV terjadi melalui pajanan tertentu terhadap cairan tubuh, terutama melalui hubungan seksual berisiko atau penggunaan jarum yang tidak steril.

Masyarakat juga diimbau tidak panik maupun menjauhi orang dengan HIV. HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, maupun beraktivitas bersama.

Selain itu, orang dengan HIV yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara teratur dan mencapai kondisi viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual. Prinsip ini dikenal sebagai U=U atau Undetectable = Untransmittable.

Karena itu, masyarakat diingatkan untuk tidak menebak status HIV seseorang berdasarkan penampilan, orientasi seksual maupun perilakunya. Status HIV hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan.

Bagi seseorang yang merasa memiliki risiko pajanan HIV, pemeriksaan HIV menjadi langkah penting. Pencegahan juga dapat dilakukan sesuai kondisi dan indikasi medis, antara lain melalui penggunaan kondom, PrEP (pre-exposure prophylaxis), maupun PEP (post-exposure prophylaxis).

Di tengah penyebaran informasi terkait kasus tersebut, masyarakat juga diminta tidak menyebarluaskan video intim ataupun identitas pribadi orang yang terlibat. Penyebaran konten dan identitas tanpa persetujuan dapat memperbesar dampak sosial serta merugikan privasi dan martabat pihak yang bersangkutan.

Jadikan Momentum Edukasi

Kasus yang menjadi perhatian publik seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai HIV secara benar. Edukasi yang tepat dinilai penting agar masyarakat memahami cara penularan, pencegahan, pemeriksaan, serta pengobatan HIV.

“Jadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk meningkatkan literasi HIV, bukan sebagai alasan untuk menstigma. HIV adalah masalah kesehatan yang bisa dicegah, dideteksi, dan dikendalikan dengan pengobatan,” ucap dr. Ngabila Salama, MKM, seorang pejabat dan dokter di Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!