Juni 23, 2026

Sorotjakarta,-
Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama, mengingatkan bahwa konsumsi rokok dan vape masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan keluarga berpenghasilan rendah.

Menurut dr. Ngabila, rokok merupakan pengeluaran terbesar kedua dalam rumah tangga miskin setelah beras. Ia menilai kebiasaan merokok tidak hanya membebani ekonomi keluarga, tetapi juga mengurangi pemenuhan kebutuhan gizi. “Satu batang rokok setara dengan satu butir telur. Jika uang untuk membeli rokok dialihkan untuk makanan bergizi, maka kebutuhan nutrisi keluarga, terutama anak-anak, dapat lebih terpenuhi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya akses masyarakat terhadap produk tembakau. Di Jakarta, rata-rata terdapat sekitar 15 penjual rokok ketengan dalam setiap kilometer persegi, sehingga rokok sangat mudah dijangkau oleh anak dan remaja.

Dr. Ngabila menjelaskan bahwa sebagian besar perokok pemula mulai merokok saat usia SMP hingga SMA. Kebiasaan tersebut umumnya dipengaruhi oleh contoh dari orang tua, guru, maupun kelompok pergaulan. Selain itu, paparan iklan rokok turut meningkatkan keinginan untuk merokok. Anak atau remaja yang melihat iklan rokok memiliki kemungkinan hingga tiga kali lebih besar untuk tertarik mencoba merokok dibandingkan mereka yang tidak terpapar.

Terkait penggunaan rokok elektronik atau vape, dr. Ngabila menegaskan bahwa produk tersebut bukanlah pilihan yang aman. Kandungan nikotin pada vape dapat menyamai bahkan dalam beberapa kasus lebih tinggi dibandingkan rokok konvensional. Ia menyebut fenomena “triple kill” pada vape, yaitu penggunaan yang sering dianggap aman karena memiliki beragam rasa, kurangnya kesadaran akan dampak bagi perokok pasif, serta anggapan bahwa vape dapat menjadi solusi berhenti merokok meskipun banyak pengguna akhirnya tetap mengalami ketergantungan nikotin.

Lebih lanjut, dr. Ngabila menjelaskan bahwa baik perokok aktif maupun pasif memiliki risiko mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma yang lebih mudah kambuh, berbagai jenis kanker, serta penyakit kronis paru-paru. Paparan asap rokok dan aerosol vape juga dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi maupun noninfeksi.

“Dampak paling mengkhawatirkan terjadi pada anak-anak, terutama balita. Paparan rokok dan vape dapat mengganggu tumbuh kembang, kesehatan mental, perkembangan emosional, serta kemampuan kognitif anak,” kata dr. Ngabila.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menciptakan lingkungan bebas asap rokok dan vape, dimulai dari keluarga. Menurutnya, perlindungan terhadap anak-anak dan generasi muda harus menjadi prioritas bersama demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!