Sorotjakarta,-
Munculnya laporan kasus suspek dan konfirmasi hantavirus di Jakarta serta sejumlah Provinsi lain di Indonesia belakangan ini menimbulkan perhatian masyarakat. Meski demikian, praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, karena sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular antar manusia.
Menurut dr. Ngabila, pemahaman yang benar mengenai pola penularan dan langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan rasa takut yang berlebihan.
“Hantavirus memang perlu diwaspadai, tetapi masyarakat tidak perlu panik. Virus ini pada umumnya tidak menular dengan mudah dari manusia ke manusia seperti COVID-19. Penularan utamanya justru berasal dari paparan urine, kotoran, air liur tikus, atau debu yang telah terkontaminasi virus,” ujar dr. Ngabila Salama.
Ia menjelaskan, risiko penularan biasanya terjadi saat seseorang membersihkan gudang lama, menyapu area penuh debu bekas sarang tikus, melakukan kontak langsung dengan tikus mati atau terinfeksi, maupun tinggal di lingkungan dengan infestasi tikus yang tinggi.
Lebih lanjut, dr. Ngabila menyebutkan bahwa hingga saat ini kasus penularan antarmanusia sangat terbatas dan hanya ditemukan pada beberapa jenis hantavirus tertentu, seperti Andes virus yang pernah dilaporkan di Amerika Selatan.
“Jenis hantavirus yang dominan ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus, dan sejauh ini belum terbukti menular luas antar manusia. Jadi masyarakat tidak perlu takut terhadap interaksi sosial biasa,” jelasnya.
Secara klinis, gejala awal hantavirus kerap menyerupai influenza, sehingga sering tidak langsung dikenali. Gejala tersebut meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh terasa sangat lemas, mual, muntah, hingga nyeri perut.
Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan ginjal, perdarahan, sesak napas berat, hingga gagal napas atau gagal multiorgan.
Untuk itu, dr. Ngabila mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan utama.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain mengendalikan populasi tikus di rumah dan lingkungan sekitar, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, menutup celah masuk tikus, serta menghindari membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering.
“Jika menemukan area yang terkontaminasi kotoran tikus, basahi terlebih dahulu menggunakan disinfektan atau cairan pembersih sebelum dibersihkan. Gunakan masker dan sarung tangan, terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan lama yang berdebu,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi atau gejala lain setelah terpapar lingkungan dengan banyak tikus.
Kelompok yang perlu memberikan perhatian ekstra terhadap potensi paparan hantavirus antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, orang yang membersihkan bangunan lama, warga di lingkungan padat tikus, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia, dengan beberapa kasus kematian. Meski demikian, sebagian besar pasien dilaporkan berhasil sembuh setelah mendapatkan penanganan medis.
dr. Ngabila kembali mengingatkan bahwa kewaspadaan harus dibangun melalui edukasi dan perilaku hidup bersih.
“Kuncinya adalah mengenali risiko, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera memeriksakan diri bila muncul gejala setelah terpapar. Dengan begitu, kita bisa mencegah komplikasi berat dan memutus potensi penyebaran,” pungkasnya.
