Mei 1, 2026

Sorotjakarta,-
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Namun demikian, masyarakat diingatkan untuk tidak lagi memberikan stigma negatif terhadap penderita TBC, sebab penyakit ini dapat disembuhkan secara total apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.

Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, menegaskan bahwa TBC merupakan penyakit yang 100 persen dapat disembuhkan dengan kepatuhan pengobatan sesuai anjuran tenaga medis.

Menurutnya, pemahaman yang benar terkait penularan dan proses penyembuhan TBC sangat penting agar masyarakat tidak memandang pasien secara negatif maupun mengucilkan mereka dari lingkungan sosial.

“Setelah menjalani pengobatan selama dua minggu pertama, risiko penularan TBC umumnya turun sangat signifikan, hanya berkisar 10 hingga 20 persen. Setelah pasien melakukan isolasi mandiri selama 14 hari masa pengobatan awal, mereka pada dasarnya sudah bisa kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasa, tentunya dengan tetap menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan,” ujar dr. Ngabila.

Ia menjelaskan bahwa masa awal pengobatan memang menjadi fase penting untuk menekan risiko penularan. Pada fase tersebut, pasien dianjurkan menjalani isolasi mandiri, menjaga ventilasi ruangan tetap baik, menerapkan etika batuk, serta rutin mengonsumsi obat sesuai jadwal. Setelah melewati fase tersebut dan kondisi klinis membaik, pasien dapat kembali menjalankan aktivitas normal tanpa perlu mendapat perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.

dr. Ngabila juga menyoroti masih adanya stigma di masyarakat yang menganggap TBC sebagai penyakit memalukan atau sangat berbahaya sehingga penderitanya harus dijauhi. Padahal, stigma semacam ini justru dapat menghambat proses penyembuhan karena membuat pasien takut memeriksakan diri atau tidak terbuka mengenai kondisinya.

“Yang harus kita lawan bukan pasiennya, tapi penyakitnya. Jangan pernah memberi stigma pada penderita TBC. Mereka membutuhkan dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kerja agar tetap semangat menjalani pengobatan sampai selesai,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengobatan TBC sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat selama enam bulan atau sesuai rekomendasi dokter. Penghentian obat sebelum waktunya berisiko menyebabkan kekambuhan hingga resistensi obat yang justru lebih sulit ditangani.

Masyarakat pun diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, keringat malam, penurunan berat badan drastis, dan tubuh mudah lelah.

Dengan edukasi yang tepat, dr. Ngabila berharap masyarakat semakin memahami bahwa TBC bukan akhir dari segalanya.
“Dengan deteksi dini, pengobatan teratur, dan dukungan lingkungan, pasien TBC bisa sembuh total dan kembali produktif. Hilangkan stigma, hadirkan empati,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *