Juni 12, 2026

Sorotjakarta,-
Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menegaskan komitmennya dalam mendukung kelestarian lingkungan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Hal ini ditunjukkan melalui partisipasi perdana mereka dalam pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka memperingati Puncak Hari Lingkungan Hidup, Kamis (11/6/2026).

Dalam pameran tersebut, UNS memamerkan berbagai hasil riset inovatif dari dosen serta mahasiswa jenjang Magister (S2) dan Doktoral (S3). Fokus utama penelitian yang ditampilkan adalah pencarian solusi konkret terhadap permasalahan lingkungan, salah satunya melalui pengembangan peta jalan (roadmap) pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy).

Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si., selaku perwakilan dari UNS, menyampaikan apresiasinya kepada pihak panitia atas undangan tersebut. Beliau menekankan bahwa masalah sampah sudah menjadi persoalan serius bagi bangsa yang tidak bisa diselesaikan secara parsial.

​”Sampah menjadi permasalahan serius bangsa kita ini, sehingga harus kita pecahkan secara holistik dengan pendekatan Pentahelix. Jadi, harus ada sinergi antara akademisi, pemerintah (government), pelaku usaha (businessman), media, dan juga komunitas,” ujar Prof. Sajidan di lokasi pameran.

Selain pengelolaan limbah, keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam pameran ini juga menjadi bukti nyata kontribusi UNS terhadap target-target pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global. Melalui riset-riset aplikatif ini, diharapkan institusi pendidikan mampu menjadi motor penggerak dalam pencapaian konsep pembangunan berkelanjutan.

Menutup wawancara, Prof. Sajidan turut menyampaikan harapan besar kepada pemerintah terkait arah kebijakan pembangunan ke depan. Senada dengan pandangan tokoh lingkungan Prof. Emil Salim, beliau menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan alam.

“Harapan kami, seperti yang disampaikan oleh Prof. Emil Salim, bahwa pembangunan di Indonesia harus menjadikan tanah dan air sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan. Pegangan kita adalah Sustainable Development Goals (SDGs).

Ekonomi boleh maju, tetapi lingkungan dan budaya (culture) harus tetap seimbang, seiring, dan seirama,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!