Sorotjakarta,-
Joint Operating Body Pertamina-Medco Tomori Sulawesi), perusahaan hulu migas yang beroperasi di bawah naungan SKK Migas, menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memandirikan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dalam peringatan puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Andi Basuki selaku Relation Section Head JOB Tomori menyampaikan bahwa fokus utama perseroan bukanlah mengambil alih peran negara, melainkan memastikan seluruh operasional di wilayah kerja berjalan secara proper dan memberikan dampak berkelanjutan (sustainable impact) bagi warga lokal.
Inovasi Limbah Jadi Rupiah lewat “Bang Eko Tempur”
Salah satu program unggulan yang menjadi percontohan adalah Bang Eko Tempur (Bank Ekonomi Teman Pengumpul). Program ini hadir sebagai solusi atas melimpahnya limbah pertanian dan kotoran ternak di Kabupaten Banggai, yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi Sulawesi Tengah dan penopang pangan bagi empat kabupaten di sekitarnya.
Melalui program ini, perusahaan membangun Pos Bidik, sebuah wadah sistem barter di mana masyarakat dapat menukarkan kotoran hewan ternak mereka menjadi pupuk organik siap pakai atau uang tunai.
Skala Produksi: Saat ini produksi pupuk organik telah mencapai 400 ton.
Dampak Ekonomi: Menghasilkan perputaran pendapatan kelompok hingga Rp53 juta per bulan.
Keterlibatan Warga: Melibatkan 120 petani lokal secara aktif.
Tingkat Kepuasan: Meraih indeks kepuasan masyarakat yang tinggi sebesar 3,44.
Nilai Investasi Sosial (SROI): Nilai Social Return on Investment (SROI) program ini mencapai 2,43.
“Artinya, dari setiap Rp1 yang diinvestasikan, memberikan nilai manfaat sebesar Rp2,45 kepada masyarakat.” Ujarnya.
Lestarikan Burung Hantu
Melalui ‘Panutan Banggai’
Selain pengelolaan limbah, perusahaan juga sukses menjalankan program Panutan Banggai, sebuah inovasi berbasis lingkungan untuk mengatasi hama tikus yang kerap merusak lahan pertanian warga.
Perusahaan memanfaatkan burung hantu sebagai predator endemik alami untuk menekan populasi hama. Langkah ini juga berhasil memutus rantai bahaya bagi keselamatan warga. Jika sebelumnya hampir setiap enam bulan terdapat kasus petani meninggal dunia akibat tersengat arus listrik yang dipasang mandiri untuk menghalau tikus, kini angka kematian tersebut berhasil ditekan hingga nol kasus (zero accident).
Hingga saat ini, telah dibangun 112 Rumah Burung Hantu (Rubuha) yang tersebar di tiga kecamatan. Setiap pasang burung hantu diproyeksikan mampu mengamankan sekitar 5 hektare lahan pertanian.
Guna menjaga aspek kelestarian, seluruh Rubuha dibangun setinggi 4 meter dengan memanfaatkan material ramah lingkungan non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Menutup wawancara, Andi menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat, khususnya terkait isu pengelolaan sampah yang kini menjadi tantangan nasional.
Meskipun perusahaan telah menginisiasi sejumlah bank sampah di daerah, mereka masih membutuhkan arahan dan contoh teknologi pengelolaan sampah skala besar dari pusat agar dapat diadopsi dan diimplementasikan di tingkat kabupaten.(yr)
