Mei 28, 2026

Sorotjakarta,-
Ketua Umum Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Indonesia, Pdt. Dr. Henock Soetopo, memaparkan sejumlah poin penting hasil pelaksanaan Rakernas III GBT Indonesia yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta, Kamis (28/5/2025).

Menurut Pdt. Henock Soetopo, Rakernas kali ini menjadi momentum evaluasi pelayanan sekaligus penyusunan program kerja gereja untuk tahun-tahun mendatang.

“Di hari pertama itu dilakukan pemaparan dan laporan evaluasi apa yang sudah terjadi dalam setahun kemarin. Kemudian hari berikutnya membahas perencanaan program-program yang akan dilakukan untuk tahun ke depan sambil mengevaluasi apa yang sudah terjadi,” ujar Pdt. Henock kepada awak media.

Ia menjelaskan, Rakernas III ini merupakan rapat kerja nasional ketiga dalam masa kepemimpinannya. Ke depan, GBT Indonesia juga akan melaksanakan rapat kerja daerah serta rapat pimpinan nasional sebelum nantinya menuju Musyawarah Besar (Mubes) tahun 2028.

Dalam Rakernas tersebut, berbagai hal strategis dibahas, terutama berkaitan dengan penyampaian berita Injil, penataan pelayanan gereja, hingga penguatan tanggung jawab masing-masing gereja dalam pengembangan pelayanan.

“Kita menargetkan ada hal-hal yang lebih penting, pertama secara teknis penyampaian berita, penataan pelayanan dan tanggung jawab masing-masing gereja dalam pengembangan, lalu berjejaring dengan dunia misi,” jelasnya.

Pdt. Henock juga menampilkan berbagai dokumentasi pelayanan misi internasional yang pernah diikutinya, termasuk pelayanan di Korea Selatan beberapa tahun lalu.

Menurutnya, jejaring pelayanan misi internasional akan terus dikembangkan untuk mendukung pelatihan dan pengembangan pelayanan gereja di Indonesia.

“Ke depan mereka akan menjangkau kita dan membuat kontak untuk training-training secara khusus. Bahkan kemarin ada seminar tentang misi dengan gereja-gereja dan organisasi-organisasi misi yang ada di Indonesia,” katanya.

Selain membahas program kerja, Rakernas III GBT Indonesia juga diisi dengan pelantikan sejumlah pendeta dan pengurus pelayanan. Pdt. Henock berharap para pendeta yang baru dilantik dapat menjalankan tugas pelayanan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi serta tetap memiliki semangat melayani.

“Kadang orang punya jabatan lalu diam. Kita ingin supaya dengan jabatan itu ada pengembangan pelayanan di daerah-daerah tertentu secara khusus, tetapi tetap dengan pola yang bijaksana dan tidak menyinggung hal-hal yang tidak perlu,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemuridan sebagai salah satu kunci utama pertumbuhan gereja. Menurutnya, gereja yang tidak melakukan pemuridan akan mengalami kemunduran.

“Kami terus membunyikan tentang pentingnya memuridkan. Kalau gereja memuridkan maka gereja akan bertumbuh, tetapi kalau tidak pernah memuridkan maka gereja akan mati sendirinya. Itu menjadi poin utama pemberitaan kami selama tiga hari ini,” tegasnya.

Di akhir keterangannya, Pdt. Henock meminta dukungan doa agar GBT Indonesia dapat terus berkembang dan menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi gereja nasional, termasuk PGI, PGPI, hingga kemungkinan kerja sama dengan lembaga-lembaga misi lainnya.

“Koneksi-koneksi ini akan mencerahkan pandangan kita bersama supaya melayani dengan tekun, lebih sungguh-sungguh, dengan metode yang baru, cara yang baru, bahkan dengan roh dan hati yang baru,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!