Sorotjakarta,-
Dalam rangka menyambut Hari Ibu 22 Desember 2025, sosok wanita karier yang memegang amanah sebagai Wasekjen di organisasi IWTL (Indonesia Women in Transportation & Logistics) Nuryawati, meluangkan waktu dan kesempatan berbagai pandangan tentang sosok ibu dengan segudang tantangan kedepan dalam rangka menyambut Hari Ibu 22 Desember 2025.
Berikut wawancaranya, Minggu, 21 Desember 2025.
Media: Di era digital ini, apa tantangan terbesar dalam mendidik anak menurut Ibu?
Nuryawati: Menurut pendapat saya di era digital ini yang saat ini segala sesuatu dituangkan di medsos, sehingga membuat anak menjadi individual karena malas untuk berinteraksi dengan yang lainya menjadi ansos dan kecanduan gadget.
Sebagai orang tua saya tetap menerapkan sedikit sistem VOC kepada yang diajarkan orang tua, mendidik secara moral dan agama, budi pekerti, etika dan sopan santun adalah hal yang not negotiable, dengan anak kita harus selalu bekomunikasi tentang kegiatan yang dilakukan setiap hatinya, dan saya mendidik anak harus aktif berkegiatan diluar kewajibanya di pendidikan, harus bersosialisasi dengan lingkungan, sehingga tidak terfokus pada games atau hal-hal yang negative di efek digitalisasi.
Media: Bagaimana Ibu menyeimbangkan antara peran sebagai ibu, istri, dan profesional (jika relevan)?
Nuryawati: Sebagai seorang single mom, saya selalu berusaha membuat segalanya berjalan seimbang antara tugas kantor, pribadi dan menjadi orang tua tunggal, saya tidak bisa menggantikan peran seorang ayah bagi anak saya karena kita berbeda, tapi saya menerapkan walaupun hanya mama disampingnya, insyaAllah saya bisa membuat hidupnya happy. Saya selalu berperan sebagai sahabat ketika dia ingin curhat, sebagai teman ketika kita ingin hangout dan yang utama sebagai seorang ibu ketika dia membutuhkan sandaran dan nasehat, dan menjadikan anak menjadi peribadi yang selalu berjalan di atas norma- norma agama.
Media: Jika Ibu bisa memberi satu pesan untuk semua ibu di luar sana, apa pesannya?
Nuryawati: Pesan saya “just be a mom” adilah seorang ibu sesuai karakter kita apa adanya kita, mendidik anak itu harus punya skill khusus dan hanya seorang ibu yang mampu menjalankannya, jangan takut menegur ketika dia salah karena itu demi kebaikannya, walau kadang ada drama diperjalan hidupnya. Berikanlah pelukan kedia ketika anak sedih, dan berikan pujian ketika dia mengerjakan sesuatu dengan baik atau berprestasi.
Media: Bagaimana anda melihat peran ibu dalam membentuk masa depan bangsa?
Nuryawati: Peran Ibu sangat penting dan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat, bagaimana seorang ibu bisa membentuk karakter seorang anak menjadi baik atau menjadi buruk dan itu sangat mempengaruhi hidupnya ke depan.
Tidak mudah dan kadang menguras airmata, tapi seorang ibu pasti berusaha menjalankan perannya dengan keikhlasan hatinya, dan doa melalui jari-jari tanganya yang menembus langit, tidak ada yang meragukannya ketika suatu saat anak berhasil, ini adalah berkat didikan seorang ibu.
Dipenghujung wawancara sosok single mom yang juga sebagai Executive Secretary DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) ini merasa bangga atas pencapaiannya yang berhasil menjadikan anaknya menjadi sosok seorang anak yang mandiri dan berhasil menggapai cita-cita dengan kerjakerasnya.
“Realy Proud tobe Me, My Self and I and to be a Mother of my Kids”
