BMI : PSBB Tanpa Bansos Memadai Akan Kembali Jadi Bencana di 2021

BMI : PSBB Tanpa Bansos Memadai Akan Kembali Jadi Bencana di 2021

Sorotjakarta,-
Ratusan warga Desa Pasir Sari, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berebut antrean mengambil bantuan sosial (bansos) Covid-19 dari Provinsi Jawa Barat, tahap empat. Kali ini warga hanya mendapatkan uang sebesar Rp100.000, berbeda dengan sebelumnya yang mendapatkan sembako berupa beras satu karung yang berisikan sepuluh kilo gram, mi instan dan minyak goreng. Meski hanya mendapatkan uang Rp100 ribu, warga yang didominasi oleh emak-emak ini rela berdesakan tanpa memperhatikan protokol kesehatan dengan tidak menjaga jarak. Selain itu, banyak warga yang membawa anak kecil dan tidak menggunakan masker. Seperti diberitakan salah satu media online, 26/12/2020

Apa yang terjadi tersebut, menurut BMI adalah indikasi bahwa angka kemiskinan di Bekasi juga di daerah lain saat covid-19 berlangsung yang terus melonjak secara signifikan tak dapat dipungkiri. Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat tak lagi mengindahkan peraturan yang diberlakukan dan juga keselamatan mereka. PSBB yang sejak awal digadang-gadang sebagai salah satu solusi untuk membendung sebaran virus covid-19, pada faktanya tak memberikan solusi yang berarti. Justru membuat masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah merasa hak hidup layaknya diamputasi secara total.

“PSBB Tidak Bisa Menjadi Solusi, upaya sosialiasi kepada rakyat agar disipilin dan ketat dalam menjalankan protokol kesehatan dengan melakukan 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) untuk menekan penyebaran angka covid disertai berbagai razia masker di berbagai tempat, Sikap masyarakat yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol juga sering sekali disorot, seolah-olah sikap abainya mereka dianggap menjadi satu-satunya penyebab angka covid yang terus meningkat. Sejak wabah melanda Indonesia, bahkan sudah hampir 1 tahun, secara drastis telah merubah kehidupan masyarakat. Ekonomi yang tadinya sudah sulit, semakin jatuh dan babak belur, yang dialami berbagai elemen masyarakat akibat efek psikologis pandemi, naiknya angka kemiskinan, angka kejahatan dan sebagainya. Dari semua itu yang paling banyak merasakan dampaknya adalah rakyat dengan ekonomi menengah ke bawah”ujar Farkhan dalam rilisnya, 5/1/2021

Peran pemimpin pun, menurut BMI, bisa dibilang sangat minimalis. Pengetatan protokol kesehatan dengan motto 3M dan perpanjangan PSBB nyatanya tidak bisa menjadi solusi. Bayangkan, jika ada kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan karena wabah, kemudian pergerakannya dibatasi untuk mencari nafkah. Bagaimana mungkin bisa menutup kebutuhan untuk seluruh keluarganya yang dimasa saat ini kebutuhan hidup semakin menganga seperti Pulsa data untuk belajar daring di sekolah, sementara bantuan sosial yang diberikan sangat minimalis. Sudah begitu ditemukan diganti dengan yang tidak layak atau dijual oleh oknum sehingga harus menyetor kurang lebih uang sekitar sepuluh ribu perpaket

“Maka menjadi wajar jika pada akhirnya masyarakat menjadi tidak mengindahkan protokol kesehatan, karena demi tetap bisa mengisi perut anggota keluarganya. Bahkan bantuan sosial yang bisa dibilang sangat kecil pun tetap membuat mereka rela antre berdesak-desakan tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri” tukas Farkhan

Miris memang, BMI melihat, disatu sisi warga diminta menjaga jarak dan terus melakukan protokol kesehatan, namun di sisi lain, kebutuhannya tidak dibantu untuk dipenuhi. Daripada mati kelaparan, lebih baik nekad menerjang virus mematikan, begitulah kira-kira prinsip hidup warga saat ini yang sudah merasakan hak-haknya teramputasi. Belum lagi, fakta lain terkait bantuan sosial sering sekali kita dengar tidak tepat sasaran karena minimnya atau bahkan ketiadaan data.

“Pembatasan Sosial Berskala Besar sudah seharusnya diiringi dengan penyediaan bahan pangan yang layak bagi masyarakat. Kalau ini tidak dilakukan seperti saat 2020 maka 2021 kita akan mengalami hal yang sama bahkan jauh lebih parah karena kita sudah dikondisi yang semakin buruk” ujar Farkhan

Maka sentuhan blusukan menteri sosial ke pemulung dan lain-lain menurut BMI lebih urgen memperbaiki kekurangan di aspek ini yang memberi dampak sosial lebih besar sesuai tupoksinya

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan