Maret 6, 2026

Oleh. Farkhan Evendi (Ketum Bintang Muda Indonesia)

Disaat negara lain seperti Turki, Malaysia, Singapore dan lainnya pejabatnya ramai-ramai menyumbangkan gajinya untuk penanganan covid justru yang aneh pejabat di negara kita yang justru mengalami lonjakan di masa covid.

Prabowo, Luhut, Jokowi, misalkan mengalami kenaikan, okelah mereka pengusaha tapi wajarkah kenaikan harta mereka di masa covid.

Nampaknya rakyat sesekali akan nampak tersenyum kecut tatkala browsing internet melihat janji mereka tatkala pemilu tapi disaat ini mereka menunaikan janji kesejahteraan untuk diri dan lingkungan mereka saja.

Dua Ormas Islam terbesar seperti NU dan Muhammadiyah walaupun bukan dibiayai negara justru jor-joran membantu negara bahkan Muhammadiyah sampai tak terhingga menghutangi negara pada pasien korban covid yang ada di rumah sakit miliknya.

Yang terjadi juga sama di ormas lain yang berjibaku termasuk di dunia kemanusiaan, betapa mereka sampai kekurangan tabung gas, masker, vitamin dan lainnya dalam membantu masyarakat.

Kenaikan harta mereka terlebih bila secara tak wajar sama saja menampar tenaga kerja kesehatan yang telat dibayar, orang tua yang kesusahan bayar paket internet anaknya untuk sekolah via virtual dan lainnya.

Kita tentu takjub ditengah kenaikan harta pejabat, Jokowi justru menambah beban dengan melempar bantuan ke got ditengah pemukiman yang banyak orang miskin.

Kita tentu takjub project-project besar yang menghasilkan fee besar untuk pejabat justru berkemelimpahan.

Kita justru heran ketika desa menjadi arena serangan virus secara frontal, para oknum kepala desa dan aparat pesta pora anggaran bansos, pokir dan seterusnya.

Kita justru heran ditengah kekayaan mereka lebih suka membiayai baliho sementara rakyat hanya diberi seonggok bantuan yang beberapa hari lagi habis sementara mereka pesta pora setiap hari menambah pundi-pundi kekayaannya.

Yang mereka jaga bukan yang menggaji mereka melainkan dompet mereka.

Yang mereka jaga bukanlah hati dan perasaan yang menggaji mereka melainkan bagaimana tetap hidup dengan gaya mahal.

Yang mereka jaga bukan ideologi perjuangan partai mereka tapi bagaimana menjadi mesin uang partai agar tetap disayang dan dipakai partai yang diasuh para oligharki.

Yang mereka pikirkan adalah menutupi kejahatan mereka bukan menutupi rasa malu mereka dengan pertaubatan.

Yang ada di hati mereka bukanlah kepentingan rakyat namun bagaimana memuaskan rekening mereka dari jeritan, kegetiran rakyat. Hal ini tidak hanya merugikan keuangan negara secara sistemik, tapi juga mengakibatkan kerugian secara langsung pada rakyat.

Keadilan sebagai benteng harapan bagi rakyat seakan ambruk. Reputasi yang dibangun akan runtuh, jika para pejabat publik tidak dapat menyikapi apa yang dipandang buruk oleh publik dengan rasa malu.

Mereka mungkin hanya berpikir bagaimana hidup mewah dari hari ke hari sedangkan rakyat berpikir hidup hari esok saja belum tentu. Jika ternyata demikian maka Mereka tidak punya rasa malu, yang dipikirkan hanyalah bagaimana merusak negara agar mereka untung, bagi mereka membangun negara dengan benar tidak ada untungnya.

Selamat tinggal rakyat adalah bahasa mereka dan sesekali tampil merakyat padahal Omnibuslaw, perpanjangan PPKM, UU Minerba lolos diketok palu DPR.

Karena jika mereka benar-benar peduli dengan hukum dan ketertiban serta kepedulian terhadap rakyatnya, mereka akan berbicara ketika orang-orang melanggar hukum. Berhentilah berpura-pura bahwa itu rumit, karena sebenarnya tidak.

Kebijakan dan program pemerintahan Indonesia jika dijalankan dengan sistem dan target yang tepat, maka Indonesia bisa menjadi negara maju. Tapi kenyataannya saat ini kita seperti berada di rumah mewah tapi atapnya bocor, jika tidak diperbaiki lambat laun bisa runtuh.

Rasa malu adalah alat yang sangat berguna dalam menegakkan norma-norma sosial. Dimanakah revolusi mental dan nawacita yang dicetuskan oleh Bung Karno? Hilangnya rasa malu sama dengan rusaknya mental dan nawacita yang diharapkan bisa menjadi dasar dalam membangun bangsa.

Adanya rasa malu membuat kita bisa berpikir idealisme, karena sejatinya pemimpin melayani rakyat. Berpikirlah Idealisme karena itu tidak membuat harkat martabat diri jatuh, tidak membuat kekeringan dalam penghijauan, justru berpikir dan bersikap Idealisme akan membangun revolusi mental dan nawacita yang membuat negara Indonesia maju, adil dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *