Sorotjakarta,-
Presiden Jokowi menerima Asosiasi Pedagang dan Paguyuban UMKM Nasional pada Rabu 15 September 2021 di Istana Negara didampingi oleh Sekretaris Kabinet beserta Menteri Koperasi dan UMKM.
Pertemuan tersebut dihadiri sekurangnya enam belas orang perwakilan dari Asosiasi Pedagang Pasar hingga Paguyuban dan Komunitas UMKM Nasional.
Presiden Jokowi memaparkan tentang kondisi pandemi covid-19 di Indonesia yang beberapa waktu ini sudah mulai menurun angkanya, dapat dilihat dari grafik kondisi pandemik pertanggal 14 September 2021 angka pasien Covid-19 sudah mulai turun 4.128/hari dibandingkan dengan kasus pandemik covid-19 di periode 15 Juli 2021 yang berdasarkan grafik, perkembangan korban covid-19 mencapai 56.757/hari.
Dalam kesempatan tersebut Presiden Jokowi menyampaikan permohonan maafnya terkait dengan kebijakan PPKM yang diterapkan selama ini sangat berdampak kepada dunia usaha kecil dan menengah khususnya kepada para pedagang pasar dan pelaku UMKM, kebijakan tersebut diambil untuk menekan laju penularan covid-19, dan mengantisipasi tingginya jumlah korban yang lebih banyak lagi, maka sangat diperlukan tindakan cepat pemerintah dalam rangka memutus rantai pandemi covid-19 dengan program PPKM yang hingga saat ini sudah masuk kedalam level 4, 3, dan 2 di Jawa-Bali.
Selain tentang kebijakan PPKM, presiden Jokowi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus sekaligus anggota Asosiasi dan Paguyuban yang telah membantu program vaksin untuk para pedagang dan warga masyarakat guna mengurangi laju penularan covid-19 diberbagai daerah.
Presiden Jokowi juga menerima masukan dan saran serta keluhan-keluhan dari para asosiasi pedagang pasar dan paguyuban UMKM atas dampak dari kebijakan pemerintah menerapkan PPKM kepada pelaku usaha, dari masalah relaksasi pembayaran cicilan, bantuan modal usaha, penghapusan bunga bank dll.
Dedi juga menyampaikan bahwa Para pedagang pasar dan paguyuban penggerak UMKM adalah pilar pembangunan ekonomi di Indonesia yang harus terus dijaga, khususnya disaat pandemik ini, karena dari para pelaku usaha kecil tersebut roda ekonomi masih terus bergerak dan berjalan.
“Kondisi saat ini memaksa para pedagang pasar merasakan dampak negatif atas pandemik covid-19, omset usaha pedagang pasar hingga saat ini turun 60%, ditambah dengan kebijakan PPKM daerah Jawa-Bali, banyak anggota yang sudah tutup ungkap Dedi Ketua AP3MC” lanjutnya.
Dedi juga mendapat laporan dari pengurus dan anggota Asosiasi Pedagang Pasar Perantau Minang Chaniago (AP3MC) bahwa saat ini Anggota AP3MC lebih dari 36.000 Se Indonesia mengalamj penurunan omset hingga 60%-80% setiap harinya, di wilayah Jabodetabek saja sekitar 8.000 anggota saat ini mengalami dampak negatif dari kebijakan PPKM dari berkurangnya omset hingga penutupan usaha”.
Namun demikian kami sangat memahami kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentunya bertujuan positif dalam rangka memutus rantai penyebaran covid-19, dengan catatan pemerintah juga harus bisa memberikan solusi atas masalah tersebut kepada para pedagang ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut Asosiasi Pedagang Pasar dan Paguyuban UMKM telah menyampaikan usulan kepada Presiden Jokowi tentang pemberian stimulus bantuan biaya hidup untuk para pedagang, bantuan permodalan usaha dan relaksasi pembayaran kredit hingga penghapusan BI Checking bagi pedagang yang masih tersangkut pembayaran akibat tertundanya pembayaran kredit.
Sebelum agenda pertemuan tersebut ditutup, Presiden Jokowi berjanji dalam waktu dekat akan menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para pedagang sebesar Rp.1,2 juta dengan melibatkan Asosiasi Pedagang dan UMKM dalam proses penyalurannya agar tepat sasaran.(ke)
