Biak Numfor, sorotjakarta.com
Festival Budaya Biak Melanesia (FBBM) Tahun 2026 resmi ditutup pada malam ini, Selasa (21/10/2026). Selama lima hari penyelenggaraan sejak 17 Oktober, festival budaya terbesar di Tanah Papua itu berhasil menarik 20.069 pengunjung dan menggerakkan perputaran ekonomi hingga Rp11,2 miliar.
Laporan penutupan disampaikan oleh kadispar Biak Numfor Onny.T Dangeubun di hadapan Anggota DPR RI, Anggota DPD RI, para Bupati dan Wakil Bupati, Pimpinan DPRK Biak Numfor, jajaran TNI-Polri, Sekretaris Daerah Biak Numfor, Pejabat Eselon II Provinsi se-Tanah Papua, Ketua TP-PKK Biak Numfor, Ketua TP-PKK Kabupaten Fakfak, Dewan Adat Biak, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, pimpinan BUMN-BUMD, seniman, budayawan, pelaku UMKM, kepala sekolah dan pelajar.
Dalam sambutannya ditegaskan bahwa budaya adalah identitas yang harus menjadi kebanggaan dan bersifat inklusif serta berkelanjutan.
Budaya adalah identitas dan identitas harus menjadi kebanggaan. Dia bersifat inklusif dan berkelanjutan. Untuk itu narasi, literasi, ritual, serta atraksi tentang budaya harus diorkestrasi menjadi pusaka bersama yang menghidupkan,” ujarnya.
Disampaikan bahwa penyelenggaraan FBBM 2026 akan diakhiri seremoninya malam ini, namun semangat dan ikhtiar memajukan kebudayaan Biak Melanesia telah dibangun fondasi dan pilarnya secara kolektif-kolegial melalui empat upaya:
1. Perlindungan melalui proses inventarisasi, penyelamatan dan publikasi.
2. Pengembangan dengan menghidupkan ekosistem budaya lewat peningkatan kreasi, inovasi serta pertukaran budaya.
3. Pemanfaatan dengan mendayagunakan obyek budaya untuk memperkuat jati diri, ketahanan budaya serta value ekonomi.
4. Pembinaan melalui peningkatan peran aktif sumber daya manusia, lembaga dan pranata budaya.
Selama perhelatan FBBM, panitia juga telah menampilkan dan menyajikan 7 dari 10 obyek pemajuan kebudayaan sebagaimana Undang-Undang, yakni tradisi lisan, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan permainan tradisional.
Hanya tiga yang belum kita lakukan pada perhelatan tahun ini, salah satunya terkait dengan manuskrip,” jelasnya.
Ia menambahkan, ekosistem pemajuan kebudayaan Biak Melanesia telah dirawat melalui pelestarian warisan budaya, menggerakkan ekonomi lokal, mengedukasi generasi muda, memperkuat pranata sosial dan kebudayaan, serta membangun identitas daerah.
Data Pengunjung FBBM 2026
Panitia melaporkan total pengunjung yang menghadiri FBBM 2026 sebanyak 20.069 orang dengan klasifikasi gender laki-laki 47% dan perempuan 53%. Klasifikasi umur didominasi usia sekolah dan usia produktif.
Berdasarkan asal pengunjung:
– 32 Warga Negara Asing (WNA) dari New Zealand, Swiss, Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan Jepang
– 1.726 Wisatawan Nusantara
– 18.311 Wisatawan Lokal, dengan 18.000 diantaranya tercatat pulang-pergi (pulang-balik) selama 5 hari di semua sub-event
Terkait dampak ekonomi, total perputaran ekonomi selama 5 hari FBBM 2026 diperkirakan mencapai Rp11.254.000.000.
Rincian perputaran tersebut diantaranya:
– Talent seniman: Rp690.500.000
– Produksi event: Rp723.000.000
– Makanan dan minuman: Rp1.505.000.000
– Souvenir: Rp128.725.000
– Persewaan pakaian dan aksesoris adat: Rp1.030.650.000
– Kuliner Munara Fananggi: 14.200 porsi
Sisanya berasal dari DPA kegiatan dan ekspansi penjualan UMKM selama 5 hari penyelenggaraan. (Herikson Kbarek)
