Biak Papua,sorotjakarta.com
Setelah melalui proses diskusi panjang pasca Mubes 3 KKB( KainKain Karkara Byak), masyarakat pesisir Biak membentuk komunitas nelayan Kibbutz Agape Komunitas ini lahir dari semangat kemandirian ekonomi masyarakat adat, dengan memanfaatkan potensi laut dan yang melimpah di wilayah Biak Numfor Papua.
Inisiatif ini mengacu pada keputusan MUBES III KKB (KainKain Karkara Byak) di Ibdi sub Biak Timur, Prinsip utamanya sederhana, mendahulukan kebutuhan dasar masyarakat.Isu-isu politik kita kesampingkan dulu. Kita makan dulu. Laut ini pemberian Tuhan yang tidak akan pernah habis. Ikan bisa langsung kita panen, langsung makan atau langsung jual,” ujar Alberth Ketua komunitas.
Pembentukan Kibbutz Agape tidak mudah. Awalnya para pemilik gagasan sulit duduk bersama. Namun sekelompok warga kemudian memulai dari hal kecil.
Mereka mengumpulkan tali yang putus, pelampung bekas, hingga patungan minyak. Dari 1 duluan, terkumpul 1 rompong. Lama-lama menjadi 2 rompong. Dukungan datang dari berbagai pihak,Armada perahu juga didukung oleh warga yang kesehariannya menggantungkan hidup di laut.
Kami mulai dari yang ada. Ada tali sedikit kami kumpul. Ada pelampung kami ambil. Pelan-pelan jadilah,” kata Albert.
Kepemilikan Wilayah Laut dan Bantuan yang Tidak Merata
Komunitas menghadapi dua persoalan utama. Pertama, setiap wilayah laut memiliki pemilik wilayah adat. Jika masyarakat dari wilayah adat Biak Timur datang dan membuat rompong di wilayah adat biak selatan, potensinya pasti konflik dengan kampung tetangga,itu hal fakta.
Kedua, bantuan pemerintah yang hanya diberikan ke satu kelompok sering menimbulkan kecemburuan. Contohnya bantuan rompong atau motor tempel yang hanya diberikan ke satu kelompok nelayan. Jika tidak jalan bersama, kelompok lain merasa tertinggal.
Karena itu kami memilih untuk bantu komunitas, bukan individu. Supaya jalan bersama,” tegas ketua.
Pemerintah daerah juga hadir melalui Bapak desa dan Bapak Daud sanady Salah satu fokusnya adalah mengaktifkan kembali salah satu Kampung kosong di Karnindi yang selama ini tidak memiliki akses jalan.
Kalau kampung itu kosong, rawan. Setelah kita aktifkan kembali, kita bisa pakai dan jaga bersama. Ini juga demi keamanan wilayah,” jelasnya.
Pihak gereja,Dewan Adat dan Kepala Dinas Perikanan dalam hal ini Pemerintah Biak Numfor juga mendapat apresiasi besar dari komunitas karena dukungan doa dan arahan selama proses ini.
Untuk meningkatkan keterampilan, perwakilan komunitas sempat tinggal hampir 2 minggu di Manokwari. Bersama rekan-rekan mereka melakukan uji coba teknik penangkapan ikan di laut setiap malam.
Komunitas berharap ke depan, Kibun Sagap bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat adat mengelola potensi laut secara mandiri, dan berkelanjutan. (Herikson W.Kbarek)
