Sorotjakarta,-
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri swasta dalam menjawab tantangan serta kebutuhan infrastruktur digital masa kini. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam gelaran Digital Transformation Indonesia (DTI) Expo di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (5/8/2026).
Dalam penutupannya, Sarwoto menyoroti dinamika pergeseran industri telekomunikasi dari masa ke masa. Ia mengingatkan kembali era monopoli telekomunikasi PSTN (telepon rumah) yang penetrasinya sangat terbatas, hingga lahirnya era seluler dan perkembangan pesat internet saat ini.
“Dulu jaringan PSTN hanya menyentuh sekitar 22 persen penetrasi sebelum akhirnya digantikan oleh teknologi seluler. Kini, kehadiran internet dan perkembangan teknologi baru seperti token digital terus mengubah peta industri. Kita perlu merenungkan apakah layanan internet dan teknologi masa depan ini sudah menjadi hak warga negara,” ujar Sarwoto.
Lebih lanjut, Sarwoto menggarisbawahi bahwa penyediaan bandwidth maupun infrastruktur digital (digital public infrastructure) saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan sektor swasta atau komersial semata, melainkan sudah menjadi kebutuhan pemerintah untuk menjalankan pelayanan publik dan mewujudkan program Smart City.
“Pemerintah juga butuh bandwidth dan solusi digital sendiri untuk menjalankan fungsinya. Apakah pemda seperti DKI Jakarta mampu menyediakan seluruh infrastruktur Smart City secara mandiri? Tentu tidak, tetap butuh merangkul pihak swasta,” jelasnya.
Ia memprediksi adanya siklus industri yang bergerak kembali pada pentingnya peran infrastruktur publik layaknya konsep Perumtel di masa lalu, namun dengan model kerja sama yang erat antara pusat, daerah, dan pelaku usaha swasta.
Di akhir penyampaiannya, Ketua Umum Mastel mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat asosiasi dan berkolaborasi. Mastel siap menjadi wadah dalam menampung aspirasi terkait kebijakan, regulasi, hingga penyiapan sumber daya manusia (SDM) dan talenta digital nasional.
“Kalau bergerak sendiri-sendiri suara kita tidak akan kuat. Melalui wadah asosiasi, kita bisa merumuskan masukan yang lebih solid untuk disampaikan kepada pemerintah,” pungkasnya.(yr)
