Sorotjakarta,-
Dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) VI Asosiasi BP PTSI 2026, Badan Pengurus Harian Yayasan Aksa Mahmud, Asrul Hidayat, S.T., M.T., menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam tata kelola yayasan penyelenggara pendidikan. Pergeseran ini dinilai krusial untuk menghadapi dinamika persaingan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Pergeseran Paradigma:
Yayasan Harus Lebih Aktif
Menurut Asrul, pihak yayasan tidak bisa lagi bersikap pasif seperti dulu, yang hanya menyerahkan seluruh operasional dan arah kebijakan institusi sepenuhnya kepada pengelola atau rektor.
“Dengan paradigma baru, yayasan harus lebih aktif. Bagaimanapun, yayasan adalah pemilik yang memiliki visi utama mengenai arah perkembangan perguruan tinggi tersebut,” ujar Asrul di lokasi acara Munas, Rabu, 15 Juli 2026 di Jakarta.
“Setelah visi tersebut dirumuskan dengan jelas oleh yayasan, barulah mandat eksekusinya diserahkan kepada rektor sebagai pengelola aktif Kampus.” Tambah Asrul
Perkembangan Universitas Bosowa dan Tren Jurusan Pertambangan
Yayasan Aksa Mahmud saat ini mengelola dua institusi pendidikan tinggi di Makassar, yaitu Universitas Bosowa (jalur akademik) dan Politeknik Bosowa (jalur vokasi). Di wilayah Makassar, Universitas Bosowa telah berhasil mengukuhkan posisi dalam jajaran tiga besar perguruan tinggi swasta terkemuka.
Berikut adalah profil perkembangan institusi berdasarkan data internal saat ini:
• Jumlah Mahasiswa: Tercatat sekitar 17.000 mahasiswa aktif di pangkalan data.
• Fakultas & Program Studi: Memiliki 10 fakultas dengan total 42 program studi.
• Program Pascasarjana: Menyediakan 8 program Magister (S2) dan 3 program Doktoral (S3).
Di tengah situasi ekonomi saat ini, tren peminat di Universitas Bosowa justru mengalami peningkatan. Hal ini didukung oleh kebijakan biaya kuliah yang tetap terjangkau bagi kelas menengah serta komitmen pemberian layanan pendidikan terbaik.
Secara khusus, Program Studi Pertambangan dan Kebumian menjadi primadona yang sangat diminati oleh masyarakat setempat.
Fenomena ini menjadi anomali tersendiri jika dibandingkan dengan wilayah Jawa yang trennya mulai menurun.
Menurut Asrul, tingginya minat ini dipengaruhi oleh masifnya keberadaan daerah tambang nikel di Sulawesi, seperti di Konawe, yang mendorong banyak mahasiswa dari daerah lingkar tambang tersebut datang menempuh studi pertambangan. Walau demikian, untuk saat ini program S2 khusus pertambangan belum tersedia.
Tantangan Persaingan: Fenomena “Pukat Harimau” PTN
Menanggapi persaingan dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Asrul tidak menampik adanya tantangan besar. Sistem penerimaan PTN yang masif sering kali diibaratkan seperti “pukat harimau” atau gelombang tsunami yang menyerap calon mahasiswa dalam jumlah sangat besar.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI) telah melakukan advokasi kepada DPR agar masa penerimaan mahasiswa baru di PTN dibatasi. Upaya pembatasan waktu ini mulai memperlihatkan hasil positif dalam dua tahun terakhir:
“Dulu: PTN masih membuka penerimaan mahasiswa baru hingga bulan September.
Tahun Lalu: Batas penerimaan PTN mulai dipercepat hingga 15 Agustus.” Ujarnya.
“Tahun ini: Waktu penerimaan PTN dibatasi hanya sampai akhir Juli, sehingga memberikan ruang waktu yang lebih adil bagi PTS untuk menjaring mahasiswa baru.” Tutur Asrul.
Menyikapi Perang Harga Antar-PTS
Selain bersaing dengan negeri, tantangan internal di dunia PTS juga diwarnai dengan adanya fenomena perang harga hingga black campaign. Kendati aturan baku mengenai batas tarif dari pemerintah belum tersedia, perwakilan Komisi X DPR telah memberikan sinyal mengenai rencana regulasi rentang harga (range) ke depan.
Bagi Yayasan Aksa Mahmud, strategi terbaik menghadapi dinamika ini adalah dengan menjaga kualitas. Selama mutu pendidikan yang ditawarkan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat, maka tingkat kepercayaan publik akan tetap terjaga.
Harapan Hasil Munas
Melalui momentum Munas ke VI Asosiasi BP PTSI ini, Asrul berharap konsolidasi dan kesatuan suara antar-PTS dapat semakin solid agar bisa saling mendukung satu sama lain. Siapa pun pengurus yang akan terpilih nantinya baik keberlanjutan kepemimpinan Prof. Dr. Thomas Suyatno maupun munculnya figur baru diharapkan tetap konsisten memperjuangkan kepentingan seluruh PTS yang tergabung dalam asosiasi.(yr)
