Juni 16, 2026

Sorotjakarta,-
Potensi industri rumput laut di Indonesia dinilai masih sangat prospektif dengan tren pertumbuhan yang positif. Kendati demikian, tantangan besar masih membayangi karena mayoritas komoditas laut ini masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Guna mendorong nilai tambah di dalam negeri, Indonesian Tropical Seaweed Association (IntroSea) hadir untuk melengkapi ekosistem asosiasi rumput laut yang sudah ada.

Chairman IntroSea, Artati Widiarti, menjelaskan bahwa kehadiran IntroSea bertujuan untuk mengisi ruang yang belum tergarap optimal oleh asosiasi lain seperti ARLI (Asosiasi Rumput Laut Indonesia) dan Astruli (Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia).

“ARLI memang sudah ada, tetapi saat ini fokusnya lebih kepada trading (perdagangan). Kemudian ada Astruli untuk industri pengolahan, tetapi mereka lebih ke arah hidrokoloid seperti karaginan dan agar-agar. Nah, kami IntroSea hadir untuk melengkapi bahwa jenis rumput laut itu sangat banyak dan produk turunannya tidak hanya sebatas hidrokoloid saja,” ujar Artati saat diwawancarai di sela-sela sebuah pameran di Jakarta.

Potensi Besar di Luar Hidrokoloid

Artati memaparkan, rumput laut memiliki ragam produk turunan yang sangat luas dan bernilai tinggi, mulai dari bahan farmasi, obat-obatan, hingga biostimulant (biostimulan). Ia secara khusus menyoroti pentingnya pengembangan biostimulan dari rumput laut bagi sektor pertanian.

“Biostimulan itu membantu meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk oleh tanaman, sehingga penggunaan pupuk kimia bisa lebih hemat. Ini penting sekali karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan tidak sesuai aturan bisa menyebabkan tanah mengalami defisiensi hara,” jelasnya.

Lebih lanjut, Artati menambahkan bahwa pemulihan tanah yang mengalami defisiensi hara paling baik dilakukan dengan bahan-bahan organik. Di sinilah penggunaan biostimulan rumput laut memegang peran krusial untuk mempercepat pemulihan sekaligus mengefektifkan pemupukan.

Wadah Kolaborasi Multi-Sektor

Sebagai asosiasi yang digagas sejak tahun 2024 dan resmi mengantongi legalitas hukum (Kemenkumham) pada tahun lalu, IntroSea mengusung profil keanggotaan yang inklusif dan berbasis keahlian.

Di dalam tubuh IntroSea, bergabung berbagai elemen strategis mulai dari para profesor dan akademisi (ahli taksonomi tanaman, ahli pengolahan, hingga ahli riset), pelaku bisnis, pemerhati industri, perwakilan pemerintah, hingga pelaku usaha rintisan (startup).

“Kami memiliki anggota dari berbagai perguruan tinggi, pebisnis, hingga startup seperti Bayu dan Blue Refinery yang fokus pada pengembangan biostimulan. Jadi keanggotaan kami memang mencakup pemerintah, akademisi, peneliti, pebisnis, hingga pelaku UKM,” kata Artati.

Target dan Harapan ke Depan
Melalui partisipasi dalam ajang pameran dan pergerakan organisasi, Artati menaruh harapan besar agar masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia semakin sadar akan masifnya potensi rumput laut lokal. Menurutnya, ironis jika pasar luar negeri justru lebih agresif mencari rumput laut Indonesia dibandingkan dengan kesadaran masyarakat di dalam negeri sendiri.

“Harapan kami yang pertama, masyarakat Indonesia khususnya kalangan pebisnis paham bahwa kita punya potensi yang sangat besar di sektor rumput laut. Kita harus lebih aware (peduli). Kedua, melalui wadah ini, kami berharap para anggota IntroSea bisa saling membangun jaringan bisnis (business networking).
Bagaimanapun, roda bisnis harus tetap berjalan dan saling menguntungkan,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!