Sorotjakarta,-
Gelaran Indo Livestock 2026 Expo dan Forum menjadi momentum penting bagi industri peternakan sapi perah di tanah air. Di sela-sela acara, Ketua Umum Asosiasi Holstein Indonesia, Dr. Ir. Rochadi Tawaf, M.S., membagikan pandangan mendalam mengenai peta jalan asosiasi yang baru seumur jagung ini dalam membenahi carut-marut pembibitan (breeding) sapi Holstein di Indonesia.
Sejarah dan Urgensi Berdirinya Asosiasi
Rochadi menceritakan bahwa upaya pembentukan wadah bagi peternak sapi Holstein di Indonesia sebenarnya sudah diinisiasi sejak puluhan tahun lalu, namun sempat menemui jalan buntu.
Inisiasi Awal (1989):
American Holstein sempat datang ke Indonesia untuk menginisiasi pembentukan asosiasi, namun program tersebut tidak berjalan.
Bantuan Jepang & Pembentukan IDEA:
Melalui JICA dan Dinas Peternakan Jawa Barat, dibentuklah Indonesian Dairy Herd Association(IDEA) sebagai asosiasi pembibit (breeders).
Kondisi Terkini:
Asosiasi Holstein Indonesia yang ada saat ini secara resmi baru berdiri pada September 2025 lalu. Menurut Rochadi, kehadiran asosiasi ini sangat krusial karena Indonesia sempat kehilangan arah dalam hal pembibitan sapi perah.
“Selama ini kami merasakan Indonesia itu tidak punya breeders, akhirnya sapinya berantakan karena tidak ada yang mengawal. Sapi hasil progeny test (uji keturunan) di BUPT pemerintah yang diberikan ke masyarakat, setelah itu tidak lacak lagi ada yang dipotong, ada yang dijual ke mana tidak tahu,” ungkap Rochadi.
Target 10 Tahun ke Depan:
Melahirkan Indonesian Holstein,
Menjawab tantangan tersebut, Asosiasi Holstein Indonesia telah menyusun peta jalan strategis yang terbagi dalam beberapa fase untuk 10 tahun ke depan. Target utamanya adalah menghasilkan galur murni sapi Holstein yang adaptif dengan kondisi lokal, atau disebut Indonesian Holstein.
Langkah Strategis yang Sedang Dijalankan:
1. Inventarisasi Kebutuhan Peternak: Melakukan identifikasi langsung mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh para peternak lokal saat ini.
2. Kolaborasi Riset Tiga Pilar (Triple Helix): Membentuk Pusat Kolaborasi Riset yang melibatkan Asosiasi, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), dan Universitas (Universitas Padjadjaran/Unpad).
3. Analisis Genomik: Riset tidak hanya berfokus pada penampilan fisik luar (eksterior) sapi, tetapi juga menyentuh aspek genetik melalui analisis genomik.
4. Pemanfaatan Big Data Global: Menjalin kerja sama riset dengan para peneliti dunia untuk memanfaatkan big data guna meningkatkan mutu bibit dan benih sapi di Indonesia.
Standardisasi dan Sertifikasi Sapi Perah
Salah satu program kerja konkret yang akan didorong oleh asosiasi adalah penerapan sertifikasi produk dan standarisasi ketat, mirip dengan yang diberitakan oleh asosiasi Holstein global.
“Kami ingin sapi-sapi yang dihasilkan itu bersertifikat. Jadi kalau diklaim produksinya 20 liter, ya harus benar-benar 20 liter. Kalau tidak sampai, berarti sertifikatnya tidak benar. Harus ada standarisasi,” tegasnya.
Meski demikian, Rochadi menambahkan bahwa standar yang diterapkan di Indonesia nantinya akan disesuaikan dengan iklim (climate), budaya, dan kondisi masyarakat lokal. Standar di Indonesia belum tentu bisa disamakan persis dengan Australia atau Amerika Serikat.
Harapan di Indo Livestock 2026
Bagi Asosiasi Holstein Indonesia, keikutsertaan dalam pameran Indo Livestock 2026 Expo dan Forum merupakan langkah awal untuk unjuk gigi di industri nasional.
“Asosiasi ini masih baru, kami masih tertatih-tatih ingin mendapatkan eksistensi dan dukungan riset kolaborasi. Pameran ini menjadi ajang promosi bagi kami untuk mendatangkan sapi-sapi yang nantinya akan kami seleksi untuk keperluan standarisasi ke depan,” tutup Rochadi.(yr)
