Mei 23, 2026

Sorotjakarta,-
Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama mengingatkan masyarakat akan bahaya polusi udara yang terus memburuk, terutama di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta.

Menurutnya, paparan polusi udara dalam jangka pendek maupun panjang dapat meningkatkan berbagai risiko gangguan kesehatan serius.

“Polusi udara meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), memperberat asma, bronkitis, PPOK, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, bahkan kanker paru pada paparan jangka panjang,” ujar dr. Ngabila Salama dalam keterangannya, Sabtu, 23/5/2026.

Ia menjelaskan bahwa partikel halus seperti PM2.5 menjadi salah satu komponen paling berbahaya dalam polusi udara. Partikel tersebut dapat masuk sangat dalam ke paru-paru bahkan hingga ke aliran darah sehingga memicu berbagai penyakit kronis.

“PM2.5 sangat berbahaya karena ukurannya sangat kecil sehingga bisa masuk ke paru bahkan ke aliran darah,” jelasnya.

Menurut dr. Ngabila, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak polusi udara, yakni bayi dan balita, lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK dan penyakit jantung, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti pengendara, pekerja lapangan, hingga pedagang kaki lima.

Ia menegaskan, saat kualitas udara memburuk masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang efektif.

“Gunakan masker seperti KN95 atau N95 bila terpapar polusi udara, kurangi juga sumber polusi di dalam ruangan,” katanya.

Selain itu, kelompok rentan diminta segera memeriksakan diri apabila mulai mengalami gejala gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, maupun iritasi saluran pernapasan.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, dr. Ngabila menilai tren ISPA masih menjadi salah satu beban penyakit yang konsisten tinggi di wilayah perkotaan padat penduduk, terutama ketika kualitas udara memburuk.

“Tren ISPA memang menjadi salah satu beban penyakit yang konsisten tinggi di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta, terutama saat kualitas udara memburuk,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!