Oleh: Nina Yuminar Priyanti, M.Pd, Prof. Dr. Bachtiar Sjaiful Bachri, M.Pd, Dr. Citra Fitri Kholidya, M.Pd (S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya)
Dalam beberapa tahun terakhir, Pendekatan Outcome-Based Education (OBE) mulai popular dalam bidang Pendidikan. OBE menekankan capaian hasil belajar sebagai indikator keberhasilan. Di perguruan tinggi, pendekatasn ini cukup mudah diterapkan. Namun ketika OBE mulai diterapkan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), muncul pertanyaan yang penting: apakah Anak Usia Dini benar-benar bisa dinilai dengan cara yang sama?
Di sinilah persoalan bermula. PAUD bukan sekadar jenjang pendidikan awal. Fase ini sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Ketika anak berkembang dengan sangat cepat bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga motorik, sosial, emosional serta spiritualnya. Pada tahap ini, anak belajar dengan bermain, mencoba hal-hal baru, dan bermain bersama lingkungan sekitarnya. Proses, bukan hasil, adalah inti dari pendidikan anak usia dini.
Sementara itu, OBE cenderung menempatkan hasil sebagai fokus utama. Anak dianggap
berhasil ketika bisa mencapai beberapa standar yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika pendekatan ini digunakan terlalu keras di PAUD, maka terdapat bahaya besar: kita bisa jadi mengubah cara anak tumbuh menjadi hanya mengikuti target saja. Masalah utamanya tidak terletak pada OBE itu sendiri, melainkan pada cara kita memahami dan menerjemahkannya. Dalam penggunaan sehari-hari, “outcome” biasanya diartikan sebagai hasil akhir yang jelas dan bisa diukur. Misalnya, anak bisa membaca, menulis, atau melakukan perhitungan pada usia tertentu.
Padahal dalam konteks PAUD, Outcome seharusnya dipahami secara lebih luas dan lebih dalam. Hasil bukan hanya tentang apa yang bisa dilakukan anak, tetapi juga tentang bagaimana anak itu tumbuh dan berkembang. Seorang anak yang mulai bersikap berani dalam berbicara di depan teman-temannya, misalnya, telah menunjukkan perkembangan sosial emosional yang penting meskipun tidak selalu terlihat dalam indikator akademik. Artinya, hasil dalam pendidikan anak usia dini seharusnya menunjukkan proses pertumbuhan, bukan hanya sekadar akhir dari hasil yang dicapai.
Menerapkan OBE tanpa melakukan penyesuaian bisa membuat guru lebih memperhatikan pencapaian tujuan, daripada kebutuhan anak. Guru terus sibuk memastikan target tercapai, sementara proses belajar anak justru diabaikan. Dalam kondisi ini, bermain yang seharusnya menjadi inti pembelajaran bisa berubah menjadi aktivitas yang “dipaksakan” demi mencapai hasil tertentu. Anak tidak lagi
bermain untuk belajar, tetapi bermain untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut lagi, tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh para guru, tetapi juga dialami oleh anak-anak serta orang tuanya. Anak-anak yang seharusnya belajar dengan senang hati justru bisa merasa tertekan dalam mengejar prestasi sejak usia dini.
Lalu apakah ini berarti OBE harus ditolak? Tidak juga. OBE tetap memberikan manfaat positif, khususnya dalam menunjukkan arah serta kejelasan tentang tujuan pembelajaran. Namun, dalam konteks PAUD, OBE perlu diadaptasi agar sesuai dengan prinsip perkembangan anak. Pertama, hasilnya harus didasarkan pada perkembangan, bukan hanya secara akademik saja. Fokusnya adalah pada kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain, mencoba hal baru, dan mengelola perasaan mereka. Kedua, pembelajaran harus tetap berpusat pada bermain. Hasil tidak dicapai dengan perintah langsung, tetapi melalui pengalaman yang memiliki makna. Ketiga, penilaian harus dilakukan secara autentik. Guru harus mengamati, mendokumentasikan, dan merefleksikan perkembangan anak, perkembangan anak, bukan hanya mengukur hasilnya saja. Dengan pendekatan ini, OBE tidak lagi digunakan sebagai cara untuk “mengukur” anak, melainkan sebagai kerangka untuk memahami bagaimana anak tumbuh dan berkembang.
Transformasi ini juga memaksa perubahan dalam cara pandang para guru. Guru kini
bukan hanya orang yang menjalankan kurikulum, tetapi juga menjadi pengamat serta pemantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Alih-alih bertanya “apakah target sudah tercapai?”, guru sebaiknya bertanya “apa yang sedang berkembang pada anak tersebut?”.
Pertanyaan sederhana ini mengubah perhatian dari hasil ke proses, dari angka ke makna. Akhirnya, kita harus kembali ke inti dari pendidikan usia dini, yaitu membantu anak tumbuh secara alami dan sempurna. Pendidikan bukanlah tentang mempercepat anak agar cepat mencapai standar tertentu, melainkan tentang mendampingi mereka dalam proses tumbuh menjadi manusia yang utuh.
OBE dapat menjadi bagian dari sistem pendidikan PAUD, tetapi bukan dalam bentuk yang kaku dan berbasis teknokrasi. Ia perlu diolah menjadi pendekatan yang lebih manusiawi, bisa menyesuaikan, dan sesuai dengan konteks. Akhirnya, anak bukanlah tujuan yang harus dicapai. Mereka adalah proses yang harus dipahami.
