Mei 13, 2026

Sorotjakarta,- Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Prof. Dr. H. Sumaryoto, menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan pendidikan nasional dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Hal itu disampaikannya saat wawancara di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).

Menurut Sumaryoto, salah satu persoalan mendasar yang selama ini menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia adalah kebiasaan pergantian aturan setiap kali terjadi pergantian rezim atau menteri.

“Berbicara tentang Hari Pendidikan Nasional, kita masih dihadapkan pada persoalan klasik, yakni berganti rezim berganti peraturan. Kondisi ini membuat pendidikan di negara kita kurang tertata dan kurang terarah,” ujarnya.

Ia menegaskan, sebagai bangsa besar, Indonesia seharusnya mampu melanjutkan kebijakan yang sudah terbukti baik tanpa harus menggantinya hanya karena terjadi pergantian kepemimpinan.

“Kalau memang sebuah kebijakan itu sudah baik, ya harus diteruskan. Jangan setiap ganti presiden atau ganti menteri, aturan ikut berubah. Ini yang menyebabkan pendidikan kita seperti berjalan di tempat, sementara negara lain terus melaju,” katanya lagi.

Sumaryoto menilai saat ini kebijakan yang dijalankan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sudah berada pada jalur yang tepat.

“Saya melihat saat ini sudah mulai on the track, mulai menata pendidikan sesuai jalur yang benar. Harapannya ke depan pendidikan kita menjadi lebih terarah dan tertata dengan baik,” tuturnya.

Terkait roadmap pendidikan nasional, ia menyebut secara implisit arah kebijakan sebenarnya sudah ada, meskipun belum dituangkan secara eksplisit dalam peta jalan yang terukur dan terstruktur.

“Setiap kebijakan pasti punya arah. Hanya saja memang belum dibuat secara khusus dalam bentuk mapping yang jelas tentang langkah ke depan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian kurikulum terhadap perkembangan zaman, termasuk menghadapi tantangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). 

Menurutnya, regulasi yang jelas sangat dibutuhkan terkait penggunaan teknologi tersebut dalam dunia pendidikan.

Selain itu, ia menyambut baik sejumlah pembaruan kurikulum, seperti penguatan pelajaran bahasa Inggris dan teknologi informasi sejak jenjang sekolah dasar.

“Ini langkah perbaikan yang baik. Tapi kalau nanti kembali diganti-ganti, tentu akan merepotkan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sumaryoto juga menyinggung tantangan yang dihadapi perguruan tinggi swasta, terutama dalam perekrutan mahasiswa baru. Ia menilai kebijakan penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri melalui berbagai jalur seleksi turut memberikan tekanan bagi kampus swasta.

Menutup pernyataannya di momentum Hardiknas 2026, ia berpesan agar para pemangku kebijakan menjaga stabilitas regulasi pendidikan.

“Kalau aturan yang ada sudah tepat, jangan diganti-ganti lagi. Jangan sampai terus terulang, ganti rezim ganti aturan,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!