April 28, 2026

Sorotjakarta,-
Universitas Panca Sakti Bekasi menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menuju Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE)” sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Ifan Iskandar, S.Pd., PG Dipl. in TESOL, M.Hum, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik di Universitas Negeri Jakarta.

Dalam paparannya, Prof. Ifan menegaskan bahwa evaluasi kurikulum sejatinya merupakan proses penyesuaian berkelanjutan yang mengarah pada pendekatan berbasis capaian atau Outcome Based Education (OBE). Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen utama dalam implementasi OBE, yakni perancangan kurikulum berbasis capaian, pelaksanaan pembelajaran berbasis capaian, serta penilaian proses pembelajaran yang juga berorientasi pada capaian.

Menurutnya, tujuan utama dari penerapan OBE bukan sekadar menyesuaikan kurikulum dengan tuntutan zaman, melainkan juga mentransformasi kemampuan para pendidik agar mampu menjawab kebutuhan kompetensi baru.

“Ketika kita mendefinisikan ulang blueprint pendidikan, pada saat yang sama kita juga harus ‘mengisi ulang’ kapasitas para pendidik,” ujarnya.” Di Kampus Pascasarjana, Selasa, 28/4/2026.

Ia juga menyoroti tantangan dalam implementasi kurikulum di Indonesia, yang kerap belum berjalan secara tuntas. Evaluasi kurikulum yang umumnya dilakukan setiap empat hingga lima tahun dinilai belum optimal, karena sering kali kurikulum sudah berganti sebelum implementasi sebelumnya selesai dijalankan secara menyeluruh.

Lebih lanjut, Prof. Ifan membandingkan pendekatan OBE dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Ia menyebutkan bahwa secara konsep, keduanya tidak memiliki perbedaan yang terlalu substansial karena sama-sama berbasis kompetensi. Namun, permasalahan utama terletak pada konsistensi dalam perancangan, implementasi, dan evaluasi yang belum dilakukan secara menyeluruh.

Dalam konteks perubahan zaman yang sangat dinamis, ia menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan untuk terus belajar hal baru. Perubahan dunia kerja yang cepat menuntut lulusan tidak hanya menguasai kompetensi saat ini, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan di masa depan.

Selain itu, pemanfaatan teknologi juga menjadi sorotan penting. Prof. Ifan menjelaskan bahwa teknologi bukanlah bagian terpisah dari kurikulum, melainkan elemen yang terintegrasi dalam seluruh proses pendidikan. Pasca pandemi COVID-19, sistem pembelajaran telah memasuki era hybrid atau blended learning, yang menggabungkan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran daring melalui platform digital.

“Perkuliahan saat ini tidak lagi sepenuhnya konvensional. Ada kombinasi antara tatap muka dan virtual meeting yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran,” jelasnya lagi.

Melalui kegiatan FGD ini, diharapkan Universitas Panca Sakti Bekasi dapat merumuskan kurikulum yang lebih relevan, adaptif, dan berorientasi pada capaian, serta mampu mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan global dan perubahan kompetensi di masa depan.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *