Sorotjakarta,-
Dalam menyambut hari ibu 22 Desember 2025, secara khsusus sorotjakarta.com berkesempatan mewawancarai wanita-wanita hebat yang bernaung dalam organisasi IWTL (Indonesian Women in Transportation and Logistics) yang diketuai Susana Riana Sari.
Kali ini sosok Heny Eka Puspita,BBA (HONS), S.H., M.H., CTL yang menjabat sebagai Kadiv Hukum Organisasi Kepabeanan dan Kebijakan Pemerintah di IWTL akan berbincang dengan jurnalis sorotjakarta.com Yurike seputar peran sosok ibu dalam rangka menyambut hari ibu 22 Desember 2025.
Yurike: Apa tantangan terbesar dalam mendidik anak di era digital?
Heny: Di tengah gempuran teknologi, tantangan kita bukan lagi soal akses informasi, melainkan filter nilai.
Literasi Digital vs Konsumsi Konten: Tantangan utamanya adalah bagaimana melatih anak agar memiliki critical thinking. Anak harus bisa membedakan mana informasi yang valid dan mana yang hanya “sampah” digital atau hoaks.
Koneksi Emosional di Tengah Algoritma: Gadget seringkali menjadi “tembok” antara orang tua dan anak. Menjaga kedekatan emosional agar anak tetap menjadikan orang tua sebagai tempat bertanya utama (bukan search engine atau media sosial) adalah perjuangan besar saat ini.
Keamanan Mental: Paparan terhadap standar hidup semua di media sosial dapat menurunkan kepercayaan diri anak. Kita tertantang untuk membangun self-esteem mereka agar tetap kuat di dunia maya.
Yurike: Bagaimana menyeimbangkan peran ibu, istri, dan profesional?
Heny: Bagi perempuan berpendidikan tinggi, keseimbangan bukan berarti membagi waktu 24 jam secara merata, melainkan tentang manajemen prioritas dan integrasi.
Prioritas Berbasis Skala Nilai: Ada saatnya peran sebagai ibu menjadi prioritas utama (misal: saat anak sakit), dan ada saatnya peran profesional mengambil panggung (misal: saat tenggat waktu pekerjaan). Kuncinya adalah komunikasi yang jujur dengan pasangan dan anak.
Membangun Support System: Ibu cerdas tahu bahwa ia tidak harus menjadi “Superwoman” sendirian. Memiliki sistem pendukung (suami yang suportif, keluarga, atau bantuan asisten) adalah langkah strategis, bukan tanda kelemahan.
Kualitas di Atas Kuantitas: Fokus pada kehadiran penuh (mindfulness) saat bersama keluarga. 30 menit tanpa gawai seringkali lebih bermakna daripada seharian bersama tapi pikiran melayang ke pekerjaan.
Yurike: Apa pesan untuk seluruh ibu?
Heny: Pesan saya singkat “Ibu yang bahagia dan berdaya adalah kunci bagi keluarga yang sejahtera.” Sing penting waras….Salam Waras kabeh….heheheh
Jangan pernah lupa untuk berinvestasi pada diri sendiri (self-care dan self-development). Ibu yang terus belajar dan menjaga kesehatan mentalnya akan memiliki energi yang lebih besar untuk mendampingi tumbuh kembang anak dan mendukung pasangan. Ibu tidak perlu sempurna, ibu hanya perlu terus bertumbuh.
Yurike: Bagaimana peran ibu dalam membentuk masa depan bangsa
Heny: Ibu adalah “Menteri Pendidikan” pertama dan utama di unit terkecil negara, yaitu keluarga.
Penyemai Karakter: Karakter bangsa dimulai dari meja makan dan pelukan ibu. Kejujuran, integritas, dan empati yang diajarkan ibu di rumah adalah bahan baku utama bagi pemimpin bangsa di masa depan.
Penentu Kualitas SDM: Dengan latar belakang pendidikan Ibu (SD, SMP, SMA, S1, S2, atau S3 bahkan Profesor sekalipun), Ibu berperan besar dalam memastikan anak-anak mendapatkan stimulasi intelektual yang tepat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. wakakakka – versi lebay iki….hehehehe
Filter Moral: Di dunia yang semakin tanpa batas, ibu adalah “benteng” yang menyaring pengaruh luar agar anak-anak kita tetap memiliki identitas dan moralitas yang kuat sebagai identitas bangsa.
Demikian wawancara bersama Kadiv Hukum Organisasi Kepabeanan dan Kebijakan Pemerintah IWTL melalui whatsapp dalam suasana santai, dan sekali-kali diiringi tawa. Sehat selalu ibu-ibu hebat Indonesia, salam sehat.(yr)
