Maret 6, 2026

Sorotjakarta,-
Kasus keracunan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) kian santer terdengar salah satunya di Kabupaten Bandung Barat, saat ini Pemda setempat telah memberi status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Atas maraknya kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) program pemerintah di lingkungan sekolah, Praktisi Kesehatan Masyarakat dr. Ngabila Salama sekaligus Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta angkat bicara.

Melalui rilis yang diterima sorotjakarta.com ia mengatakan dua kasus orang dengan gejala keracunan makanan di suatu tempat sudah harus dikatakan kejadian luar biasa.

Ia memberikan masukan kepada pemerintah agar semua provider MBG wajib memiliki sertifikat layak hygiene dari Dinas Kesehatan setempat melalui Puskesmas.

Menurutnya, dengan demikian dapat dipastikan bahan olahan semua sehat, bersih, sesuai standar juga cara & lama penyimpanan bahan baku, suhu penyimpanan, cara pengolahan dari mulai mencuci memotong memasak, cara pengemasan, distribusi dan menghidangkan, kebersihan alat makan yang dipakai, dll.

Ditambahkan olehnya, makanan juga harus habis dimakan oleh siswa di sekolah, tidak boleh di bawa pulang karena akan terkontaminasi liur dan lebih lama waktu memakannya dari proses masak.

“Kalo bisa masaknya jangan terlalu lama ada yang bilang masak sudah dari jam 21.00 Wub atau 23.00. Wib. Sebisa mungkin masakan dekat dari waktu penyajian, maksimal 3 jam, dan dipastikan hangat dan kondisi fresh.” Ucapnya.

Ia menambahkan dalam program MBG agar sebelum dikonsumsi guru mengajarkan ke anak untuk dapat mengenali bau yang tidak biasa. Jika ada indikasi basi dari mulai bau, warna, rasa, dll. Jangan diteruskan konsumsi, diberikan info ke provider untuk evaluasi, jangan dibawa pulang anak, kalau memang ada kasus keracunan sisa makanan harus disimpan dan sampel diperiksa.” Terangnya lagi.

Lanjut kata Ngabila, “Akan lebih baik jika provider selalu menyimpan sampel masakan per harinya sehingga jika seburuknya terjadi keracunan makanan maka masih ada sampel masakan untuk diperiksa di lab, apa sebenarnya patogen / zat penyebab keracunan makanan.” Tandas Ngabila yang juga Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisas di Dinas Kesehatan DKI Jakarta.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *