Sorotjakarta,-
Sukun masih kalah populer dibandingkan beras sebagai sumber karbohidrat utama. Saat ini masyarakat Indonesia masih menganggap sukun sebagai cemilan pelengkap saat menikmati secangkir teh atau kopi. Padahal tanaman dengan nama ilmiah Artocarpus altilis merupakan salah satu tanaman buah potensial di Indonesia dengan kandungan karbohidrat yang tinggi dalam 100 gram sukun jumlah karbohidratnya setara dengan sepertiga karbohidrat pada beras. Selain itu juga tinggi nutrisi seperti vitamin, mineral, dan serat yang sangat baik untuk kesehatan.
Tidak hanya kandungan gizi yang baik, sukun pantas menjadi pangan alternatif karena daya adaptasi tanaman yang baik. Hasil penelitian Chicago Botanic Garden menunjukkan pada kondisi ancaman perubahan iklim, sukun masih mampu berporduksi dan diprediksi masih akan terlihat eksistensinya hingga tahun 2060-2080. Tidak bisa dipungkiri ancaman perubahan iklim memaksa manusia untuk mecari sumber pangan alternatif yang mudah dibudidayakan dan mampu mencukupi kebutuhan gizi. Sukun menjadi salah satu tanaman hortikultura yang cocok dipilih sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Hingga tahun 2023, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) telap menerbitkan tujuh varietas sukun unggul nasional yang tersebar di beberapa wilayah, salah satunya sukun varietas Pulo Seribu. Varietas sukun ini merupakah hasil eksplorasi dari kearifan sumber daya genetik Jakarta Utara khususnya di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Sukun Pulo Seribu memiliki keunggulan jumlah buah yang banyak yaitu dalam setahun mampu menghasilkan 150-250 buah per pohon. Selain itu varietas ini memiliki keunikan yang mampu membedakannya dari sukun lain yaitu bentuk buah lonjong dengan permukan kulit berduri tumpul.
Pengembangan sumber pangan alternatif ini akan membantu menjaga ketahanan pangan bangsa. Penting saat ini melirik sukun untuk dibudidayakan guna meningkatkan ketersedian sumber karbohidrat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi sukun tahun 2022 mencapai 165.032 ton. Perlu komitmen bersama untuk mendorong optimasi sukun sebagai sumber pangan alternatif. Kunci awal pengembangannya melalui menjamin ketersedian benih sumber bermutu dari varietas sukun unggul seperti sukun Pulo Seribu ini.
Soal ini, Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Inti Pertiwi Nashwari angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa benih adalah titik awal budidaya pertanian yang mampu meningkatkan daya saing produk hortikultura. Tanpa ketersediaan benih bermutu maka sulit untuk mendorong peningkatan produksi sukun untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
“Sukun Pulo Seribu yang telah didaftarkan sebagai varietas unggul melalui terbitnya SK varietas Nomor 243/Kpts/TP. 420/4/2002 perlu kita jamin keberlanjutannya melalui perlindungan terhadap pohon induk varietas ini, tanpa pengelolaan pohon induk maka sulit melakukan pengembangan benih bermutu untuk kecukupan produksi sukun,” ucap Inti pada Selasa, 21 Mei 2024. Hal ini disampaikan dalam sambutannya di kegiatan Workshop Determinasi Pohon dan Rumpun Induk Hortikultura Tahun 2024 di Jakarta Utara.
Pentingnya pengelolaan pohon induk sukun khususnya varietas asli Jakarta ini disambut baik oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Sub Koordinator Urusan Pertanian Perkotaan Dinas KPKP DKI Jakarta, Taufik Yulianto dalam kesempatan kegiatan tersebut menjelaskan bahwa saat ini Pemprov DKI Jakarta terus konsern meningkatkan pengembangan pertanian khususnya hortikultura. Menjamin keberlanjutan SDG asli Jakarta seperti sukun Pulo Seribu menjadi salah satu langkah untuk menjadikan Kepulauan Seribu sebagai lumbung pangan Jakarta.
Langkah kongkrit menuju ketahanan pangan bangsa yang dilakukan oleh Direktorat Perbenihan Hortikultura, Kementerian Pertanian bersama Dinas KPKP DKI Jakarta dengan melakukan pengelolaan sumber daya genetik unggul sukun asli Jakarta. Determinasi Pohon Induk yang dilakukan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu sebagai lokasi konservasi pada 21-22 Mei 2024 oleh Kelompok Kerja Pendaftaran dan Penyebaran Varietas Hortikultura Dit. Perbenihan Hortikultura bersama Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) DKI Jakarta, BPSB Jawa Barat, BPSB Jawa Tengah, BPSB Banten dan Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB menjadi titik awal untuk menjamin keterpeliharaan pohon induk sehingga mampu menghasilkan benih bermutu yang akan mendukung pengembangan sukun sebagai sumber pangan alternatif.
Sekretaris PKHT IPB, Kusuma Darma menjelaskan bahwa determinasi dan identifikasi pohon induk sukun Pulo Seribu ini perlu dilakukan dengan serius demi keberlanjutan sumber daya genitik unggul nasional yang mampu mendorong bangsa yang mandiri pangan. Kunci penyediaan benih bermutu adalahn tersedianya benih sumber yang berkualitas dan cukup secara kuantitas.
Ketua Kelompok Kerja Pendaftaran dan Penyebaran Varietas Hortikultura, Langgeng Muhono menegaskan bahwa kegiatan determinasi pohon induk sukun Pulo Seribu ini menjadi bentuk pengejawantahan komitmen Direktorat Perbenihan Hortikultura dalam mewujudkan ketahanan pangan dengan optimalisasi plasma nutfah varietas unggul nasional. Tanpa tersedianya benih sumber bermutu dari varietas sukun unggul maka akan sulit menjamin peningkatan produksi sukun untuk mendukun ketahanan pangan bangsa.
Mari kita kelola dengan bijak sumber daya genetik lokal untuk meningkatkan daya saing pertanian bangsa demi menjadi bangsa yang mandiri pangan.(yr)
