Oktober 9, 2026

Jayapura, sorotjakarta.com
Tepat satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua, Pemerintah Provinsi Papua menggelar event internasional Border Trade Fair (BTF) / Borderless Festival Republik Indonesia Papua New Guinea Tahun 2026 di kawasan PLBN Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Rabu (8/10/2026).

Event ini menjadi kado satu tahun kepemimpinan Gubernur Papua dalam mendorong penguatan ekonomi kawasan perbatasan.

Panitia penyelenggara menyampaikan terima kasih atas dukungan kebijakan dan koordinasi dari Gubernur Papua MDF sehingga event ini dapat terlaksana setelah melalui beberapa kali rapat persiapan.

Yang kita harapkan, kita ingin memperkenalkan produk-produk ekonomi dan potensi UMKM lokal agar pasarnya bisa lebih diperluas. Kalau saat ini di lokal Papua sudah dikenal, ini ada kesempatan untuk memperluas pasar ke Papua New Guinea,” ujar Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja sama Prov Papua Dr.Triwarno Purnomo S.STP.M.Si. saat di wawancarai media ini.

Tercatat 66 UMKM dari Indonesia dan Papua New Guinea tampil memperkenalkan produk unggulan, mulai dari kerajinan dan kriya, kuliner, elektronik dan teknologi, hingga layanan jasa.

Selain pameran, event ini juga mendorong kemitraan strategis dunia usaha melalui sesi bisnis matching yang difasilitasi KADIN Papua dan Chamber of Commerce Papua New Guinea.

Melalui bisnis matching ini, produk-produk potensial dari kedua negara dapat dipertemukan untuk peluang kerjasama perdagangan lintas batas,” jelas Kaban.

Sementara itu, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang di sampaikan oleh pimpinan nya Ni Luh Puspa J, menegaskan dukungan penuh terhadap event yang rutin digelar setiap tahun ini. Selain sebagai tempat pemeriksaan lintas batas negara, PLBN Skouw juga dipromosikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Kami dari BNPP sangat mendukung. Makanya kita berupaya di setiap hari pasar itu tetap harus ada. Karena dulu sempat ditutup. Kita upayakan kalau bisa hari pasar tetap ada,” ujar Puspa Kepala BNPP.

Menurutnya, hari pasar sangat vital bagi perekonomian masyarakat perbatasan. Setiap hari pasar, ribuan warga PNG datang berbelanja di Skouw.

Setiap hari pasar itu lumayan, kalau dari PNG itu bisa ribuan orang. Memang di Pasar Skouw ramai sekali, apalagi menjelang akhir tahun bisa 3.000 pengunjung hanya untuk datang belanja. Jadi income-nya masuk ke daerah juga,” katanya.

Tingginya animo warga PNG disebabkan selisih harga. Kurs 1 Kina PNG setara Rp4.000, sehingga harga barang di PNG jauh lebih mahal.

Kalau kita ke sana mahal, harus punya kartu lintas batas. Mereka yang ke sini belanja lebih banyak. Jadi sangat menguntungkan perekonomian kita,” ungkapnya.

Untuk memudahkan warga perbatasan, terdapat kebijakan khusus. Warga dari lima kampung sepanjang Vanimo hingga Lido yang tidak memiliki paspor, diberikan izin melintas terbatas hanya sampai pasar untuk berbelanja menggunakan manifest.

Izinnya sampai di sini saja, tidak sampai ke Kota Jayapura. Kalau sampai Kota Jayapura harus pakai Yellow Card atau paspor. Manifest itu sampai di pasar saja untuk belanja, supaya perekonomian kita meningkat,” pungkasnya.

Dengan digelarnya Border Trade Fair bertepatan dengan hari pasaran, kawasan perbatasan RI-PNG diharapkan menjadi wilayah aktivitas ekonomi baru yang semakin menggeliat.(Herikson Kbarek & Buziri Korwa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!