Sorotjakarta,-
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyampaikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut ditandai dengan erupsi yang terus berlangsung secara berulang akibat adanya suplai magma dan gas yang masih terjadi di dalam tubuh gunung.
PVMBG menegaskan bahwa evaluasi perkembangan aktivitas gunung api dilakukan berdasarkan seluruh data pemantauan secara menyeluruh, tidak hanya bergantung pada jumlah atau tinggi kolom erupsi semata.
Potensi Bahaya dan Ancaman Lontaran Pijar
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi bahaya utama saat ini, yaitu lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, hingga gas berkonsentrasi tinggi. Selain itu, terdapat potensi aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau.
Lontaran material tersebut berisiko merusak peralatan di sekitar pusat aktivitas serta membahayakan siapa saja yang nekat memasuki zona terlarang. Potensi fluktuasi aktivitas gunung masih tinggi seiring ditemukannya rekaman gempa frekuensi rendah, hibrid, harmonik, hingga tremor yang menunjukkan pergerakan fluida vulkanik.
Kecil Potensi Tsunami Seperti 2018
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait potensi tsunami seperti peristiwa 22 Desember 2018, pihak PVMBG menjelaskan bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau memicu tsunami.
Tragedi tsunami 2018 lalu dipicu oleh keruntuhan sebagian tubuh gunung dalam volume besar ke laut, bukan sekadar kolom erupsi.
Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali pasca-2018 masih relatif kecil. Oleh karena itu, kondisi saat ini dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, pengamatan perubahan morfologi tetap dilakukan secara intensif.
Pemantauan Berjalan Multi-Parameter
Mengenai kendala seperti kerusakan kamera CCTV di dekat kawah, PVMBG memastikan pemantauan tetap berjalan optimal secara multi-parameter. Sistem pemantauan Gunung Anak Krakatau tidak hanya bergantung pada satu instrumen, melainkan menggunakan gabungan:
* Jaringan seismik
* Pengamatan visual dari lokasi aman
* Data deformasi dan emisi gas
* Citra satelit serta laporan informasi lapangan
PVMBG menegaskan bahwa perbaikan alat di zona bahaya tidak akan mengorbankan keselamatan petugas. Personel tidak akan dikirim ke lokasi rawan selama aktivitas gunung masih tinggi.
Dampak Sebaran Abu Terhadap Penerbangan
Arah sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan arah angin pada berbagai ketinggian, durasi erupsi, serta volume material.
Untuk menjamin keselamatan penerbangan, PVMBG terus mengkoordinasikan informasi erupsi melalui sistem Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) kepada otoritas penerbangan.
Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari instansi berwenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.(yr)
