Maret 6, 2026

Sorotjakarta,-
Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan institusi yang melakukan pengelolaan data dalam rangka menyediakan kebutuhan data untuk pemerintah dan masyarakat.
Dalam pengelolaan data, aspek penting yang perlu diperhatikan adalah keamanan data. Kamis,(14/10) bertempat di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta Selatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama BPS melakukan launching tim tanggap insiden siber BPS-CSIRT (Computer Security Incident Response Team). Launching BPS-CSIRT dihadiri oleh Kepala BSSN Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian dan Kepala BPS Dr. Margo Yuwono, S.Si, M.Si., serta Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Dahlian Persada sebagai narasumber.

CSIRT merupakan organisasi atau tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau, dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber. CSIRT terdiri atas CSIRT Nasional atau Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas), CSIRT Sektoral pada sektor administrasi pemerintahan, energi dan sumber daya mineral, transportasi, keuangan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, pangan, pertahanan, sektor lain yang ditetapkan oleh Presiden, serta CSIRT Organisasi.

Hinsa mengatakan, Berdasarkan hasil monitoring BSSN, tercatat lebih dari 1 miliar anomali trafik yang dapat dikategorikan sebagai serangan siber dalam kurun waktu Januari hingga September 2021. Serangan siber yang menjadi perhatian dan terus mengalami peningkatan yaitu serangan grup ransomeware (malware yang mengenkripsi file dan meminta tebusan) dan Distributed Denial of Service (DDoS) yang mayoritas dilatarbelakangi oleh motif untuk mendapatkan data.

Pembentukan CSIRT merupakan salah satu program prioritas nasional (major project) untuk penguatan keamanan siber yang dituangkan dalam Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Launching BPS-CSIRT pada hari ini merupakan CSIRT ke- 37 yang diluncurkan dari target 121 CSIRT hingga tahun 2024

Sementara itu, Margo mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini adalah kemajuan IT dan digitalisasi perangkat pengolahan data. BPS mencatat terdapat sebanyak lebih dari 891 ribu percobaan serangan ke server BPS. “Aspek kerahasiaan, integritas data, dan ketersediaan aplikasi menjadi hal yang harus diperhatikan.“

Pratama juga mengungkapkan, “Adanya CSIRT harus menjadi backbone dalam keamanan siber. CSIRT menjadi salah satu cara dalam pengembangan sumber daya manusia keamanan siber.”

“Kami berharap dengan tujuan tersebut, pembentukan BPS-CSIRT ini dapat membentuk ruang siber Badan Pusat Statistik yang aman dan kondusif, sehingga terciptanya kesejahteraan masyarakat di ruang siber. Secara khusus pembentukan
CSIRT ini kami harapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Pusat Statistik,” ujar Hinsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *