November 6, 2026

Sorotjakarta,-
Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-IX yang menjadi wadah penting berkumpulnya para wanita perantau asal Sulawesi Selatan dari berbagai penjuru Nusantara hingga luar negeri.

Ketua IWSS Papua Tengah, Ibu Nailani Samad, mengungkapkan apresiasi mendalam atas terselenggaranya ajang nasional ini. Menurutnya, melalui perhelatan Munas, para perempuan perantau yang berada jauh dari kampung halaman tetap merasa terikat dan tidak terasingkan.

“IWSS ini adalah tempat berhimpunnya kita semua wanita perantau yang ada di Nusantara. Kami asalnya dari Sulawesi Selatan, tetapi dengan adanya Munas ini, kami yang di rantau tidak dianak-tirikan karena ada ikatan Wanita Sulawesi Selatan yang mengadakan kegiatan ini,” ujar Nailani di sela-sela acara Munas ke-IX.

Ia menambahkan, kehadiran para anggota yang dihimpun dari seluruh Indonesia hingga mancanegara membuktikan bahwa perempuan perantau mampu mengapresiasi diri serta sukses di tanah rantau.
Potensi Perempuan di Papua Tengah

Menyinggung perkembangan IWSS di wilayah Papua Tengah, Nailani bersyukur karena banyak perempuan di sana yang kini aktif di berbagai bidang, mulai dari pengusaha hingga anggota dewan.
Meski dirinya mengaku hanya seorang ibu rumah tangga, ia menilai organisasi ini memberikan wadah yang sangat positif bagi para perempuan untuk terus berkarya dan termotivasi.

“Di sana banyak ibu-ibu yang pengusaha, ada juga yang jadi anggota dewan. Kalau saya cuma ibu rumah tangga saja sih, cuman kami… itulah bagusnya kalau ada wadah. Meskipun sebagai ibu rumah tangga, kita jangan berkecil hati, kita bisa mengapresiasikan diri bahwa ibu rumah tangga juga bisa berkariir dan berusaha menjadi pengusaha sukses,” tuturnya.

Harapan untuk Ketua Terpilih dan Perhatian bagi Perantau Papua

Menghadapi kepengurusan baru hasil Munas ke-IX, Nailani menyampaikan sejumlah harapan khusus. Ia berharap ketua yang nantinya terpilih dapat memberikan perhatian lebih kepada para anggota yang berada di wilayah Papua, mengingat tantangan geografis dan biaya transportasi yang cukup tinggi.

“Harapannya, semoga nanti ke depannya kami yang ada di Papua bisa untuk diutamakanlah jika ada kegiatan seperti ini. Karena kita kalau dari Papua, Ibu, biaya ke sini itu tiketnya Rp15 juta sampai Rp19 juta,” ungkapnya.

Ia juga berharap ke depannya ada uluran tangan atau perhatian khusus dari pengurus pusat agar perantau di wilayah Papua dapat lebih diperhatikan dan disetarakan dengan perwakilan daerah lainnya.

“Jadi kalau bisa, mungkin ada sedikitlah bantuan, karena mana lagi kita di sini hotel sendiri gitu kan. Jadi kalau bisa ke depannya kita lebih diperhatikan sedikit supaya kita juga bisa menyatu dengan Jawa dan sekitarnya,” pungkas Nailani.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!