September 5, 2026

Sorotjakarta,-
Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) resmi menggelar acara pelantikan dan pengukuhan pengurus baru. Dalam ajang tersebut, pengembangan pencak silat baik di tingkat nasional, daerah, hingga internasional menjadi fokus utama.

Ketua IPSI Kabupaten Wonogiri, Weda Hendragiri, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD sekaligus Pengurus Bidang Kemitraan Antar Lembaga PB IPSI, membeberkan sejumlah langkah strategis pengembangan pencak silat saat ini.

Menurut Weda, Persinas ASAD kini telah berkembang pesat dan tersebar di 37 provinsi di Indonesia. Saat ini, pihaknya tengah mengepakkan sayap ke kancah internasional untuk mendukung misi pemerintah menjadikan pencak silat sebagai olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade.

“Kita selaras dengan misi pemerintah, yaitu pencak silat menuju Olimpiade. Kita mewujudkan cita-cita dari Bapak Presiden,” kata Weda saat ditemui di sela-sela acara pelantikan PB IPSI, Sabtu, 5/9/2026.

Strategi Menggaet Pesilat Muda

Weda menyoroti pentingnya tata kelola dan marketing strategy yang tepat untuk mengenalkan pencak silat kepada generasi muda, khususnya anak-anak usia dini dan sekolah dasar.

“Bagaimana para pesilat pemula atau anak-anak SD mulai kita kenalkan tentang pencak silat. Iklim kompetisi yang baik dan hal-hal yang menyenangkan terkait pencak silat itu penting,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pembinaan di IPSI dilakukan secara bertahap dan merata, mulai dari penjaringan atlet usia dini hingga jenjang senior.

Menjawab pertanyaan mengenai Persinas ASAD, Weda menjelaskan bahwa ASAD merupakan perguruan yang menghimpun berbagai aliran pencak silat tradisional di Indonesia, seperti Cikalong, Cimande, Cikaret, hingga Garuda Mas, tanpa menghilangkan keaslian tradisi masing-masing.

Ubah Citra Positif dan Tantangan Atlet Merantau di Wonogiri

Khusus di Kabupaten Wonogiri, Weda mengungkapkan perkembangan pencak silat menunjukkan tren yang sangat positif berkat dukungan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Pihaknya berupaya mengubah citra pencak silat agar semakin diterima dan dicintai publik.

“Kita mencoba merubah image agar pencak silat ini menjadi olahraga yang positif dan diminati oleh masyarakat,” tegasnya.

Dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri pun tergolong kuat. Weda menyebut program kerja pembinaan prestasi atlet yang diajukan IPSI mendapat respons positif dari Bupati Wonogiri, bahkan berpeluang dilanjutkan dengan penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) terkait pembinaan olahraga usia dini.

Meski demikian, IPSI Wonogiri menghadapi tantangan unik terkait keberlanjutan prestasi atlet senior. Weda menyebut atlet pelajar dari Wonogiri sering menorehkan prestasi di ajang nasional seperti Popnas dan O2SN. Namun, budaya merantau membuat para atlet tersebut sering berpindah daerah setelah lulus sekolah.

“Seringnya di tataran pelajar, seperti Popnas atau O2SN Nasional. Nah, tantangannya karena masyarakat Wonogiri ini iklimnya merantau, begitu selesai masa pelajar mereka pergi ke mana-mana dan diakui oleh provinsi lain. Tapi tidak apa-apa, itu tetap untuk perkembangan pencak silat,” pungkas Weda sambil tertawa.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!