Agustus 4, 2026

Sorotjakarta,-
Belantara Foundation bekerja sama dengan Universitas Pakuan dan PT. Mitra Natura Raya sebagai pengelola Kebun Raya Bogor memberikan edukasi dan peningkatan kapasitas kepada pelajar dan mahasiswa dari Jepang, yaitu University of Tsukuba Senior High School (UTSS) at Sakado, Ehime University Senior High School dan University of Tsukuba lewat aksi mengidentifikasi fauna dan flora di kawasan urban yang dikemas melaui kegiatan Belantara Biodiversity Class (BBC) di Kebun Raya Bogor pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Pelaksanaan BBC kali ini merupakan aksi nyata dari Belantara bersama mitra untuk mendukung pemerintah dalam memeriahkan perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang diperingati pada 10 Agustus setiap tahunnya. Dengan tema “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”, HKAN 2026 ini menekankan bahwa pelestarian alam dan biodiversitas merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan multi pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat khususnya generasi muda.

Hal ini sangat sejalan dengan tujuan utama BBC, yaitu meningkatkan kesadaran (awareness) dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas, khususnya yang ada di kawasan perkotaan.

Rangkaian kegiatan BBC diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta sebanyak 25 pelajar dan mahasiswa dari Jepang mengenai hewan dan tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi empat kelompok, dan setiap kelompok menjelajahi empat jalur pengamatan yang telah ditentukan pada pukul 07.30 – 09.30 WIB. Masing-masing jalur pengamatan panjangnya sekitar 1 kilometer, dan para siwa dan mahasiswa dibekali dengan binokuler/teropong, leflet panduan identifikasi fauna-flora, serta buku catatan hasil pendataan.

Pada saat pengamatan lapangan, para peserta dipandu oleh fasilitator dari Belantara, mahasiswa dan dosen dari Prodi Biologi Fakultas MIPA, Prodi Pendidikan Biologi Fakultas KIP, Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan Dasar Sekolah Pascasarjana, dan Prodi Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan serta Kebun Raya Bogor. Selain itu, turut membantu sebagai penerjemah yaitu mahasiswa dan dosen dari Prodi Bahasa & Sastra Jepang FISIB Universitas Pakuan.

Setelah seluruh data terkumpul, peserta mengikuti sesi diskusi untuk memaparkan hasil observasi lapangannya. Kegiatan ditutup dengan peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pada sambutannya, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan bahwa Kebun Raya Bogor, yang merupakan salah satu pusat konservasi tumbuhan tertua dan terpenting di Asia Tenggara, memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai ruang terbuka hijau terluas di Kota Bogor. Dengan luas sekitar 87 hektar, Kebun Raya Bogor memberikan berbagai manfaat ekologis, edukatif, ilmiah, dan sosial bagi masyarakat.

“Keberadaan ruang terbuka hijau seperti Kebun Raya Bogor dapat berkontribusi dalam menjaga kualitas udara, mengatur iklim mikro dan menjadi habitat bagi beragam fauna dan flora, serta menyediakan laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi”, ujar Dolly yang juga sebagai pengajar Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Dolly menambahkan, pembelajaran langsung di lapangan dapat memberikan pengalaman yang lebih berkesan karena peserta tidak hanya mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya data satwa dan tumbuhan sebagai dasar dalam upaya konservasinya. Kami berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan kesadaran sehingga tumbuh kepedulian bahwa menjaga biodiversitas merupakan tanggung jawab bersama, lintas negara dan lintas generasi, demi masa depan lingkungan yang berkelanjutan. “Konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Konservasi hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kemitraan yang kuat, saling percaya, dan berbagi pengetahuan”, imbuhnya

Salah satu komponen biodiversitas, yaitu satwa liar memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem. Misalnya, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal), kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga dan herpetofauna (reptil dan amfibi) dapat membantu pengendali hama (biokontrol). Selain itu, burung, kupu-kupu dan herpetofauna dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas suatu lingkungan (bioindikator).

Akan tetapi, seiring pesatnya pembangunan, biodiversitas khususnya satwa liar menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal, pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka. Dalam penutup sambutan yang menggunakan bahasa campuran Jepang dan Indonesia, Dolly berpesan, “Alam bukanlah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita, melainkan titipan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang”. “Saya percaya bahwa apa yang kita lihat, rasakan, dan pelajari hari ini akan menjadi kekuatan untuk menjaga bumi kita di masa depan. Saya juga berharap kita semua dapat menjadi Global Biodiversity Ambassadors—Duta Global Keanekaragaman Hayati—yang menyebarluaskan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati kepada masyarakat dunia”, pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Head Teacher of International Studies Senior High School at Sakado, University of Tsukuba, Yoshikazu Tatemoto mengatakan bahwa program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi para siswa dan mahasiswa karena mereka dapat menghubungkan teori yang dipelajari di sekolah dengan praktik lapangan. Kami berharap kerja sama pendidikan konservasi biodiversitas seperti ini terus berkembang dan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang dalam bidang pendidikan lingkungan hidup.

Di sela-sela kegiatan, perwakilan peserta dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado, Kobayashi Mia mengatakan setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pengalaman ini membuatnya semakin memahami pentingnya melindungi alam dan biodiversitas.

Pada waktu yang sama, salah satu peserta dari Ehime University Senior High School, Yoshinaga Uta mengatakan bahwa melihat secara langsung begitu banyak jenis tumbuhan dan satwa liar di Kebun Raya Bogor memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Dia belajar bahwa konservasi membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk generasi muda.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari University of Tsukuba, Kobori Hayato mengutarakan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendataan biodiversitas merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya konservasi. Pengalaman pengamatan biodiversitas dan berdiskusi bersama para peserta menjadi pembelajaran yang sangat berharga baginya.

SPV Pengembangan Konservasi Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengatakan bahwa Kebun Raya Bogor memiliki peranan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan sekaligus ruang belajar bagi masyarakat. ”

Kebun Raya Bogor bukan hanya sebagai lokasi ekowisata tetapi juga laboratorium alam yang mendukung fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, dan jasa lingkungan. Kurang lebih hampir dua belas ribu spesimen tumbuhan hidup di Kebun Raya Bogor. Tumbuhan tersebut tidak hanya sebagai koleksi tetapi juga sebagai habitat satwa liar. Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar mengenali biodiversitas secara langsung. Semoga pengalaman ini dapat menumbuhkan kepedulian dan komitmen terhadap pelestarian biodiversitas di tingkat global”, tandas Saniyatun.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!