Agustus 3, 2026

Biak Papua,sorotjakarta.com
Dewan Adat Papua (DAP) menggelar momentum rekonsiliasi kedua tokoh kunci lembaga tersebut pada Minggu, 2 Agustus 2026 Prosesi adat berlangsung di halaman Kediaman Ketua Umum DAP, Mananwir Bebah Yan Peter Yarangga, dan menjadi tonggak pemulihan setelah kurang lebih satu dekade DAP berjalan dalam dua kepemimpinan berbeda.

Dua tokoh yang dipertemukan dalam semangat persaudaraan adalah Mananwir Bebah Yan Peter Yarangga dan Dominggus Surabut. Pertemuan ini dilakukan melalui mekanisme adat suku Biak sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan nilai-nilai persatuan masyarakat adat Papua.

Acara dibuka dengan doa dan penghormatan kepada para leluhur masyarakat adat Papua yang bersemayam di gunung, bukit, lembah, sungai, pesisir, danau, pantai, hingga pulau-pulau. Secara khusus penghormatan juga disampaikan kepada leluhur masyarakat adat Biak di Pulau Biak, Supiori, Numfor, dan Kepulauan Aimando Padaido yang telah mewariskan nilai luhur bagi generasi penerus.

Rangkaian prosesi diawali dengan ritual Mansorandak, yaitu penyambutan dan penerimaan adat bagi tamu yang pertama kali hadir di lingkungan keluarga besar adat Yarangga. Ritual ini dimaknai sebagai pengakuan, penghormatan, dan pemberkatan bahwa setiap tamu diterima sebagai saudara dan berada dalam perlindungan adat.

Prosesi inti dilanjutkan dengan Rabea Suser Payasyos,ritual rekonsiliasi adat Biak yang menjadi simbol pemulihan hubungan, penyelesaian perselisihan, dan pengembalian keseimbangan hidup bersama.

Dalam falsafah adat, ritual ini tidak bertujuan menentukan siapa yang benar atau salah. Fokusnya adalah memulihkan hati, menghapus luka, menutup sekat perbedaan, dan memperbarui ikatan persaudaraan demi kepentingan masyarakat adat Papua.

Dalam sambutannya ditegaskan bahwa Dewan Adat Papua adalah rumah besar seluruh masyarakat adat bangsa Papua. Dinamika dan perbedaan pandangan yang terjadi selama satu dekade terakhir diharapkan menjadi pelajaran untuk membangun kelembagaan adat yang lebih kuat, bermartabat, dan inklusif.

Adat adalah jalan yang mempersatukan, bukan memisahkan. Adat memulihkan, bukan menghakimi. Adat menjaga kehormatan setiap warga masyarakat adat dalam ikatan persaudaraan yang diwariskan leluhur,demikian penegasan dalam prosesi tersebut.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, pemberkatan adat, dan jamuan bersama seluruh Mananwir, tetua adat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemuda, dan masyarakat serta hadir pula Manfun Kawasa Byak Apolos Sroyer beserta Istri.

Pihak DAP berharap momentum rekonsiliasi ini menjadi awal baru untuk memperkuat peran lembaga dalam melindungi hak, jati diri, nilai budaya, dan masa depan masyarakat adat Papua.(Herikson.Kbarek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!