Juli 17, 2026

Sorotjakarta,-
Indonesia kembali mengukuhkan salah satu pakar terbaiknya dalam sidang terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis, 16 Juli 2026 di Jakarta.

Dalam momentum berharga ini, Dr. Hidayat, S.Kom., M.Sc. resmi dikukuhkan sebagai Profesor Riset berkat dedikasi dan konsistensinya dalam meneliti ekosistem lahan basah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Hidayat menyoroti pentingnya perubahan cara pandang masyarakat dan pemangku kebijakan terhadap lahan basah dataran banjir (floodplain), khususnya yang berada di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Menurutnya, selama ini ada miskonsepsi yang cukup besar di tengah masyarakat yang menganggap lahan basah sebagai lahan telantar atau tidak berguna (wasteland).

Sistem Penyangga Alami Aliran Sungai

Prof. Hidayat menjelaskan bahwa sungai dan lahan basah di sekitarnya merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung. Lahan basah berfungsi murni sebagai tempat penyimpanan air alami dan bertindak sebagai daerah penyangga (buffer) bagi wilayah hilir sungai.

“Jika tidak ada lahan basah di bagian Mahakam Tengah di mana terdapat sekitar 30 danau lebih di sana maka daerah-daerah di bawahnya seperti Tenggarong dan Samarinda berpotensi menghadapi bencana banjir yang sangat parah,” ujar Prof. Hidayat saat menjelaskan fungsi krusial ekosistem tersebut.

Ketika curah hujan di daerah hulu sangat tinggi, lahan basah dataran banjir di bagian tengah akan menampung luapan air tersebut. Air dapat tersimpan di area ini hingga kurun waktu dua bulan saat debit air sedang tinggi. Proses ini secara alami meminimalkan risiko banjir besar di kawasan hilir sungai.

Solusi Mitigasi Dua Musim

Tidak hanya ramah saat musim hujan, lahan basah juga memiliki peran vital ketika musim kemarau tiba. Air yang ditampung selama musim penghujan akan dilepaskan kembali ke aliran sungai secara perlahan (slow release).
Mekanisme alamiah inilah yang menjaga ketersediaan air dan menjadi pilar ketahanan lingkungan saat kemarau melanda. Dengan demikian, keberadaan lahan basah berfungsi ganda: sebagai pengendali atau mitigasi banjir di musim hujan, sekaligus pencegah kekeringan di musim kemarau demi keberlanjutan hidup masyarakat di daerah hilir.

Pesan untuk Masyarakat: Jaga Alam dan Hindari Alih Fungsi serampangan

Menutup pemaparannya, Prof. Hidayat menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menjaga alam. Beliau mengingatkan bahwa setiap elemen di ekosistem, sekecil apa pun, sudah didesain oleh Tuhan dengan fungsinya masing-masing.

Sebagai analogi, ia mencontohkan tanaman eceng gondok yang kerap dicap negatif sebagai gulma, padahal sebenarnya memiliki fungsi penting untuk menjaga keseimbangan kualitas perairan. Hal yang sama berlaku pada lahan basah yang sering kali dipaksakan untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan atau kawasan terbangun tanpa memikirkan dampaknya.

Prof. Hidayat berharap hasil riset ini dapat meningkatkan kesadaran semua pihak agar tidak lagi merusak atau menyia-nyiakan lahan basah, melainkan melestarikannya sebagai investasi jangka panjang demi keselamatan ekologis masa depan Indonesia.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!