Juli 3, 2026

Biak,-
Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Biak Numfor kini mengarah pada strategi komprehensif tiga level. Fokusnya mencakup peningkatan kualitas produk, penguatan branding, hingga pembukaan akses pasar nasional dan internasional”,kata Fransisco Olla,S.Sos.MM,saat di wawancarai media ini.

Pendekatan ini dinilai menjadi pondasi agar produk lokal Biak tidak hanya bertahan sebagai oleh-oleh, tetapi mampu naik kelas menjadi merek yang berdaya saing.

Tahap awal difokuskan pada pembenahan internal pelaku usaha. Program pembinaan UMKM meliputi pelatihan produksi, manajemen usaha, desain kemasan, hingga pengurusan legalitas seperti PIRT, NIB, dan sertifikat Halal.

Tanpa kelengkapan legalitas tersebut, produk lokal akan sulit masuk ke ritel modern maupun pasar ekspor.

Selain itu, dilakukan kurasi produk yang ketat untuk memastikan hanya produk unggulan Biak yang dipromosikan keluar daerah. Strategi diferensiasi juga menjadi sorotan melalui pengembangan ciri khas budaya, seperti “Batik Mambruk” dengan motif burung Mambrunk. Produk dengan storytelling budaya dinilai memiliki daya tarik lebih kuat di pasar nasional dan global dibanding produk generik.

Tahap kedua bertujuan mengubah persepsi produk dari sekadar komoditas menjadi merek. Targetnya adalah menciptakan merek lokal yang menjadi tolok ukur, misalnya Batik Khas Papua Timur Batik Burung Mambruk Biak”. Upaya ini diiringi dengan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau merek dagang untuk perlindungan hukum.

Pemerintah daerah juga didorong menginisiasi gerakan penggunaan produk lokal, seperti melalui surat edaran pemakaian produk Biak satu hari. Jika ASN, sekolah, dan BUMN daerah konsisten menerapkan, maka akan tercipta pasar captive sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat luas.

Langkah terakhir adalah ekspansi pasar. Keikutsertaan dalam pameran Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) seperti Pesona Pesparawi ke -14 di Manokwari menjadi pintu masuk riset pasar dan jaringan bisnis. Dari pameran nasional, pelaku usaha ditargetkan dapat naik ke pameran bertaraf internasional seperti Trade Expo Indonesia (TEI) atau acara diaspora.

Digitalisasi juga menjadi prasyarat. Pelaku UMKM perlu di;on boarding ke market place nasional seperti Toko pedia, Shopee, dan Blibli, serta marketplace ekspor seperti Amazon dan Etsy, khususnya untuk produk kriya dan fesyen.

Para pelaku usaha diingatkan bahwa pembeli internasional memiliki tiga pertanyaan utama: konsistensi kualitas, kelengkapan legalitas dan standar, serta kekuatan narasi produk.

Dari berbagai komoditas, Batik Mambruk dan produk binaan UMKM Biak lainnya dinilai memiliki potensi paling besar untuk menembus pasar global karena telah memiliki identitas budaya yang kuat
sejak awal,”harap pak Olla.(Kbarek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!