Mei 13, 2026

Sorotjakarta,-
Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh tanda-tanda kelelahan yang kerap muncul dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, tubuh yang terlalu lelah sering kali memberikan sinyal yang tampak ringan, namun jika diabaikan dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.

Menurut dr. Ngabila, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap rasa kantuk, sulit fokus, atau emosi yang tidak stabil sebagai hal biasa akibat kesibukan.

“Tubuh yang terlalu lelah biasanya memberi tanda-tanda yang sering dianggap sepele, seperti mudah mengantuk di siang hari, sulit fokus, mudah lupa, emosi lebih sensitif atau mudah marah, sakit kepala, pegal berkepanjangan, mata terasa berat, hingga daya tahan tubuh menurun,” jelas dr. Ngabila.

Ia menegaskan, bila kondisi tersebut dibiarkan berlangsung terus-menerus, seseorang berisiko mengalami kelelahan kronis yang dapat memicu gangguan kesehatan lebih serius, baik secara fisik maupun psikologis.

Terkait kebiasaan masyarakat mengandalkan kopi untuk melawan rasa lelah, dr. Ngabila menjelaskan bahwa kafein memang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi untuk sementara waktu.

“Kafein bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat, sehingga membuat kita merasa lebih segar sesaat. Tetapi perlu dipahami, kopi bukan menghilangkan kelelahan, melainkan hanya menunda rasa lelah,” ujarnya.

Ia mengingatkan konsumsi kafein yang berlebihan, terutama pada sore atau malam hari, justru dapat menimbulkan efek samping seperti jantung berdebar, rasa cemas, gangguan lambung, hingga menurunnya kualitas tidur.

Karena itu, dr. Ngabila menyarankan konsumsi kopi secukupnya dan tetap diimbangi dengan pola istirahat yang baik serta asupan cairan yang cukup.

Dalam kondisi tubuh lelah, dr. Ngabila juga menekankan pentingnya menjaga pola makan. Ia menyebut tubuh tetap membutuhkan energi dan nutrisi meski seseorang sedang tidak nafsu makan.

“Jika sedang lelah dan nafsu makan menurun, pilih makanan dalam porsi kecil tetapi tetap bergizi seperti buah-buahan, telur, sup, yogurt, kacang-kacangan, atau makanan tinggi protein dan serat,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar menghindari konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan karena hanya memberikan lonjakan energi sesaat yang kemudian diikuti penurunan energi secara cepat.

Selain itu, kecukupan cairan juga tidak boleh diabaikan karena dehidrasi dapat memperburuk rasa lelah.
Menanggapi kebiasaan “balas dendam tidur” di akhir pekan, dr. Ngabila mengatakan hal tersebut memang dapat membantu mengurangi utang tidur untuk sementara, namun tidak boleh dilakukan secara berlebihan.

“Tidur lebih lama saat akhir pekan boleh saja, tetapi jika sampai terlalu siang atau mengubah pola tidur secara drastis, ritme biologis tubuh bisa terganggu dan tubuh justru terasa lebih lemas saat kembali beraktivitas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kunci utama menjaga kebugaran adalah konsistensi pola tidur setiap hari.
Untuk mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik, dr. Ngabila membagikan sejumlah langkah sederhana yang bisa diterapkan masyarakat, di antaranya tidur dan bangun pada jam yang relatif sama setiap hari, mengurangi penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur, menghindari minuman berkafein pada malam hari, menjaga kamar tetap nyaman dan sejuk, tidak makan terlalu berat menjelang tidur, serta rutin berolahraga ringan.

Di akhir penjelasannya, dr. Ngabila mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila mengalami kelelahan berlebihan dalam waktu lama meski sudah beristirahat cukup.

“Kalau keluhan lelah berlebihan berlangsung terus meski sudah cukup istirahat, sebaiknya segera periksa ke tenaga kesehatan. Bisa jadi itu terkait anemia, gangguan tidur, stres, atau penyakit tertentu yang perlu ditangani,” pungkasnya.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!