Maret 6, 2026

Sorotjakarta,-
Polusi udara dapat memperberat gejala flu dan ISPA, bahkan membuatnya terasa seperti yang orang awam sebut sebagai “super flu”. Istilah super flu memang bukan diagnosis medis resmi, tapi secara klinis masuk akal kenapa gejalanya jadi jauh lebih berat ketika polusi tinggi.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Super Flu, simak penjelasan dari dr. Ngabila Salama, MKM sekaligus kepala seksi surveilans epidemiologi dan imunisasi di Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Apa yang terjadi di saluran napas saat polusi tinggi?

Polusi udara (terutama PM2.5, PM10, NO₂, SO₂, O₃) langsung menyerang sistem pernapasan.

Secara medis:
• Partikel halus (PM2.5) masuk sampai alveoli
• Gas iritan merusak epitel saluran napas
• Mukosa menjadi kering, meradang, dan rapuh

Pertahanan alami saluran napas menurun

Normalnya kita punya:
• Silia (bulu getar)
• Mukus pelindung
• Sel imun lokal (IgA, makrofag)

Polusi membuat semuanya lumpuh atau melemah.

Kenapa flu/ISPA jadi lebih berat?

Saat seseorang terkena virus influenza atau virus ISPA lain, lalu terpapar polusi, maka terjadi double hit:

Efek 1: Virus lebih mudah berkembang
• Virus lebih cepat menempel di epitel napas yang rusak
• Replikasi virus meningkat
• Masa sakit lebih panjang

Efek 2: Inflamasi jadi berlebihan

Polusi memicu peradangan kronis, sedangkan infeksi memicu peradangan akut.

Jika digabung:
• Sitokin meningkat tajam
• Edema saluran napas lebih berat
• Produksi lendir berlebihan, mengakibatkan:
– Batuk makin keras
– Sesak lebih berat
– Demam lebih tinggi & lama
– Badan sangat lemas, nyeri hebat

Inilah yang oleh masyarakat disebut “super flu”.

Risiko infeksi sekunder meningkat

Ini poin penting secara klinis.

Polusi:
• Menurunkan fungsi makrofag alveolar
• Mengganggu pembersihan bakteri

Akibatnya:
• Flu → ISPA berat
• ISPA → pneumonia
• Muncul infeksi bakteri sekunder (misalnya Streptococcus pneumoniae)
-Pasien tampak “jatuh sakitnya”
– Perlu antibiotik
– Kadang perlu rawat inap

Siapa yang paling rentan mengalami “super flu”?

Kelompok berisiko:
• Anak-anak
• Lansia
• Ibu hamil
• Penderita asma, PPOK, penyakit jantung
• Orang dengan daya tahan tubuh menurun
• Orang yang aktivitas luar ruang tinggi (ojol, pekerja lapangan)

Di kota besar dengan polusi tinggi, kasus flu berat dan ISPA melonjak tajam saat kualitas udara buruk.

Penelitian menunjukkan:
• Peningkatan PM2.5 → peningkatan rawat inap ISPA & influenza.
• Polusi memperpanjang durasi gejala flu.
• Mortalitas influenza lebih tinggi saat polusi buruk.

WHO dan banyak jurnal respiratori menyebut polusi sebagai co-factor utama keparahan infeksi saluran napas.

Jadi kesimpulannya?

Polusi tidak menciptakan virus baru, tapi:
• Memperparah infeksi yang ada.
• Membuat flu terasa “ganas”
• Memicu komplikasi.
• Memperlama penyembuhan.

Secara medis, “super flu” adalah flu/ISPA yang diperberat oleh faktor lingkungan + respon imun berlebihan.

Pencegahan berbasis kesehatan masyarakat & klinis

Yang realistis & efektif:
• Masker (terutama saat AQI buruk).
• Kurangi aktivitas luar ruang saat polusi tinggi.
• Cukup cairan & istirahat.
• Ventilasi rumah baik + air purifier bila memungkinkan.
• Vaksin influenza (sangat penting di kota besar).
• Segera berobat jika demam >3 hari, sesak, atau lemah berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *