Maret 6, 2026

Sorotjakarta,-
Peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari ini 22 Desember 2025 diperingati secara serentak di seluruh Indonesia. Dalam momen istimewa ini Sorotjakarta mendapat kesempatan mewawancarai perempuan-perempuan hebat, berkarakter, kuat dan tangguh yang berada dalam organisasi IWTL (Indonesia Women in Transportation dan Logistik) tentang sosok Ibu dalam keluarga dan karier.

IWTL adalah organisasi perempuan yang bergerak dibidang Transportasi Logistik dan SCM yang diketuai oleh Susana Riana Sari dan berdiri sejak tahun 2020.

Kali ini sosok perempuan hebat yang akan memberikan pandangannya di Hari Ibu adalah Dr. Nurlaela Kumala Dewi, ST, MT, CMILT selaku Kepala Divisi Bidang Pendidikan, Training dan Seni Budaya yang sebelumnya telah di wawancarai para dewan pengurus pusat IWTL seperti Wakil Ketua Umum, Sekjen, Wasekjen, Humas, Wabendum, Kadiv Hukum Organisasi Kepabeanan dan Kebijakan Pemerintah dan lainnya.

Saat dimintai komentar tentang tantangan terbesar dalam mendidik anak di eda digital, ia mengatakan bahwa tantangan terberat adalah menjaga keseimbangan antara manfaat teknologi dan risiko yang dibawanya, sambil tetap menanamkan nilai, karakter, dan kedekatan emosional dalam keluarga. Dari sudut pandang seorang ibu, bahwa yang paling berat bukan sekadar melarang gadget, tetapi menjadi sosok yang hadir, melek teknologi, dan konsisten menanamkan nilai di tengah derasnya arus digital yang sering kali lebih didengar anak daripada nasihat orang tuanya.

Menurut Nurlaela, Ditengah kemajuan zaman dimana seorang perempuan memilik kesempatan dan posisi yang sama dengan pria dalam segala bidang, untuk menyeimbagi posisi perempuan sebagai ibu, istri atau wanita karier sangat mungkin dicapai, tetapi bukan dengan membagi rata 33–33–33, melainkan dengan terus-menerus mengatur prioritas sesuai musim hidup dan kondisi keluarga.” Ucapnya.

Menurutnya hal tersebut dapat tercapai dengan menjalankan beberapa hal, antaralain:

•Prinsip dasar•
Keseimbangan tidak harus 50:50 setiap hari. Ada fase ketika pekerjaan butuh energi lebih (misalnya deadline riset), ada saat lain keluarga yang harus jadi pusat utama, dan ini wajar selama komunikasi dan kualitas hubungan tetap terjaga.

Fokus pada kualitas, bukan hanya kuantitas waktu. Penelitian tentang peran ganda menunjukkan konflik muncul bukan hanya karena sibuk, tetapi karena hadir secara fisik namun tidak benar-benar terlibat secara emosional dengan keluarga.

•Manajemen waktu dan prioritas•
Susun prioritas harian dan mingguan: apa yang paling penting untuk suami, anak, dan pekerjaan di hari itu, lalu terima bahwa tidak semua hal bisa dikerjakan sekaligus.
Gunakan alat sederhana seperti to-do list, kalender digital, atau blok waktu (time blocking) untuk memisahkan jam kerja fokus, jam untuk anak, dan waktu untuk pasangan.

•Peran sebagai ibu•
Buat rutinitas yang anak kenali, misalnya waktu khusus mendongeng, makan bersama, atau antar-jemput sekolah, sehingga anak merasa punya “zona aman” bersama ibunya meski ibu bekerja.

Tegakkan aturan yang jelas terkait gawai, jam belajar, dan jam tidur, sambil menjaga kedekatan emosional lewat ngobrol dari hati ke hati, bukan hanya memberi instruksi.

•Peran sebagai istri•
Sediakan waktu khusus berdua dengan suami, meski singkat, yang bebas gangguan kerja dan gawai, misalnya ngobrol sebelum tidur atau coffee time berdua.
Bangun kerja sama, bukan “kompetisi lelah” bagi tugas rumah secara realistis sesuai kesibukan masing-masing, sehingga beban domestik tidak hanya bertumpu pada istri.

•Peran sebagai profesional/akademisi•

Tetapkan batas kerja: setelah jam tertentu (misalnya setelah magrib), hindari membuka email atau chat kerja kecuali sangat urgen, agar otak dan hati kembali ke rumah.

Delegasikan hal yang bisa didelegasikan (administrasi, hal teknis), sehingga energi lebih banyak dipakai untuk pekerjaan inti yang bernilai (mengajar, meneliti, menulis).

Dalam kesempatan Hari Ibu 22 Desember yang diperingati di seluruh Indonesia, Nurlaela Kumala Dewi menyampaikan ucapan selamat Hari Ibu, sosok seorang ibu adalah kekuatan yang sering kali tidak disadari dunia.

“Tidak ada cara yang sempurna untuk menjadi ibu, tetapi setiap pelukan, doa, dan upaya kecil seorang ibu adalah bentuk cinta yang luar biasa. Jangan lupa bahwa di balik peran kalian sebagai pengasuh, guru, dan pelindung, kalian juga berhak untuk bermimpi, beristirahat, dan bahagia. Dunia lebih hangat karena cinta seorang ibu seperti kalian.” Terang Nurlaela.

Di tegaskan lagi, bahwa peran Ibu dalam membentuk masa depan bangsa sangat fundamental karena dari rahim, pelukan, teladan, dan didikan ibulah lahir karakter generasi yang kelak mengelola negara, ekonomi, dan peradaban.

“Seperti kita ketahui bahwa banyak tokoh-tokoh bangsa menekankan bahwa kemajuan atau kemunduran sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kaum ibu sebagai penjaga moral dan integritas keluarga. Dari ibu lahir para pemimpin dan warga negara; ketika ibu kuat secara pengetahuan, spiritual, dan emosional, maka peluang lahirnya generasi yang mampu memajukan bangsa semakin besar.” Tandas Nurlaela.(yr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *