Sorotjakarta,-
Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M. Si , MEI mengatakan akan merevisi program Kampus Merdeka yang menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Menurutnya, revisi tersebut menjadi bagian dari program strategis pengurus pusat APTISI periode 2025-2030 yang perlu perbaikan dari sisi aturan, pendekatan industri, dan peningkatan praktik.
“Kita akan perbaiki dari sisi aturan, pendekatan kepada industri lebih erat lagi dan meningkatkan praktik sehingga dengan perubahan tersebut, diharapkan mahasiswa betul-betul telah terlatih dalam menghadapi kehidupan yang lebih nyata.” Ucap Prof. Budi.
Ketum APTISI juga mengingatkan kepada seluruh anggota bahwa tantangan kedepan akan kian berat seiring berkembangnya teknologi di dunia pendidikan, namun ia berharap kepada seluruh anggota APTISI untuk tetap optimis dalam mengahadapi tantangan jaman.
“Tantangan terberat kita adalah pertama industri belum terbuka, kampus-kampus harus meningkatkan kualitas dosen dan harus mampu merubah kurikulum.” Tambah Prof Budi.
Menurut Ketum lagi, kurikulum itu harus cepat mengikuti perkembangan teknologi, seperti di negara-negara luar, sementara di Indonesia kurikulum itu 5 tahun baru diganti.
“Dan usulan kemarin dari APTISI adalah perguruan tinggi berbasis pedesaan, yakni pemerintah harus mengetahui potensi apa yang dimiliki suatu daerah lalu perguruan tinggi hadir dengan membuka program studi yang berkaitan dengan potensi di daerah tersebut, sehingga anak-anak pintar di desa tidak jauh-jauh kuliah ke kota lain.” Tandas Prof. Budi. (yr)
