Sorotjakarta,-
Tramadol adalah obat analgesik yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat. Meskipun umumnya digunakan pada orang dewasa, pemberian tramadol pada anak-anak dan remaja harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena potensi efek samping yang serius, termasuk efek pada perilaku.
Hal tersebut dijelaskan Praktisi Kesehatan Masyarakat dr. Ngabila Salama melalui rilis, Minggu, 1 Desember 2024.
Adapun efek samping Tramadol pada Anak dan Remaja antaralain:
1. Gangguan Sistem Saraf Pusat:
• Tramadol bekerja pada reseptor opioid di otak dan dapat menyebabkan efek seperti sedasi, pusing, kebingungan, atau bahkan halusinasi.
• Pada anak-anak dan remaja, hal ini dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku.
Remaja antaralain:
1. Gangguan Sistem Saraf Pusat:
• Tramadol bekerja pada reseptor opioid di otak dan dapat menyebabkan efek seperti sedasi, pusing, kebingungan, atau bahkan halusinasi.
• Pada anak-anak dan remaja, hal ini dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku.
2. Agresivitas:
• Beberapa laporan menunjukkan bahwa tramadol dapat menyebabkan perubahan perilaku, termasuk peningkatan agresivitas.
• Mekanisme pasti belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan berkaitan dengan interaksi tramadol dengan neurotransmiter seperti serotonin dan norepinefrin di otak.
3. Efek Neuropsikologis:
• Gangguan tidur, kegelisahan, dan iritabilitas merupakan efek samping yang dapat memengaruhi kontrol emosi.
• Pada remaja yang sudah memiliki predisposisi gangguan mental atau emosional, tramadol dapat memperburuk kondisi tersebut.
4. Risiko Kejang:
• Tramadol dapat meningkatkan risiko kejang, terutama pada dosis tinggi atau jika digunakan bersama obat lain yang menurunkan ambang kejang. Kejang dapat menyebabkan stres emosional yang memicu agresivitas.
• Pada remaja yang sudah memiliki predisposisi gangguan mental atau emosional, tramadol dapat memperburuk kondisi tersebut.
4. Risiko Kejang:
• Tramadol dapat meningkatkan risiko kejang, terutama pada dosis tinggi atau jika digunakan bersama obat lain yang menurunkan ambang kejang. Kejang dapat menyebabkan stres emosional yang memicu agresivitas.
5. Sindrom Serotonin:
• Jika tramadol dikombinasikan dengan obat yang meningkatkan kadar serotonin, seperti antidepresan, dapat terjadi sindrom serotonin yang menyebabkan perubahan mental, termasuk agitasi dan agresi.
6. Efek Ketergantungan:
• Tramadol memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan. Ketika efek obat mulai berkurang, anak atau remaja mungkin menunjukkan perilaku impulsif atau agresif sebagai reaksi terhadap gejala putus obat.
Perhatian dan Pencegahan
• Pemantauan Ketat: Jika tramadol harus diberikan kepada anak atau remaja, penting untuk memantau perilaku mereka secara ketat selama pengobatan.
• Alternatif Obat: Sebisa mungkin, gunakan obat penghilang rasa sakit lain yang lebih aman untuk anak-anak, seperti parasetamol atau ibuprofen, kecuali tramadol benar-benar diperlukan.
• Riwayat Gangguan Mental: Hindari pemberian tramadol pada anak atau remaja dengan riwayat gangguan mental atau emosional.
• Edukasi Orang Tua: Berikan informasi kepada orang tua atau pengasuh tentang kemungkinan efek samping dan kapan harus mencari bantuan medis.
“Apabila anak atau remaja menunjukkan tanda-tanda agresivitas atau efek samping lain setelah mengonsumsi tramadol, segera konsultasikan dengan dokter untuk menyesuaikan dosis atau mengganti obat.” Ucap Ngabila.(yr)
