Maret 6, 2026

Oleh: Sigid Purwo Nugroho, S.H

Proses pembelajaran yang terkesan stagnan dan membosankan menjadi permasalahan serius yang terjadi di SMPN Satu Atap Cibulan, dimana sekolah tersebut adalah sekolah tempat saya mengajar. Bukan hanya itu, sekolah kami bukanlah sekolah bonafide yang serba terpenuhi sarana, prasarana dan lainnya. SMPN Satu Atap Cibulan dibangun pada tahun 2007 sebagai pelaksanaan program pemerintah bagi daerah-daerah terpencil, salah satunya untuk desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah petani yang segi perekonomiannya sangat terbatas, sehingga anak-anak lulus SD banyak yang tidak melanjutkan sekolahnya, mereka diarahkan oleh orang tuanya untuk merantau mengadu nasib di Jakarta dengan cara berdagang atau sekedar menjadi buruh serabutan. Mungkin bagi keluarga yang tergolong mampu, mereka akan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang SMP yang berjarak sekitar 3 Km dari desa Cibulan, tentunya dengan menggunakan ojek kendaraan roda dua kemudian lanjut naik angkotan kota karena desa Cibulan tidak dilalui kendaraan umum.

Saat ini SMPN Satu Atap Cibulan terdiri dari 3 rombel dengan jumlah murid kurang dari 100 orang. Jadi bayangkan, sekolah kami harus bersaing dengan sekolah-sekolah besar yang lain. Ditambah lagi keadaan kurikulum lama yang sudah baku dan wajib di implementasikan oleh setiap satuan pendidikan, sementara keadaan jaman terus berkembang, termasuk desa Cibulan yang banyak mengalami kemajuan. Walaupun dengan tertatih, sekolah kami mampu bersaing dalam prestasi, baik di tingkat Kabupaten hingga Provinsi, tapi tetap saja kami banyak mengalami kendala karena setiap murid mempunyai keunikan tersendiri serta karakter yang berbeda, jadi tidak semua murid dapat berprestasi dalam bidang akademik. Guru pun tidak hanya disibukan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kelas, akan tetapi turut disibukan dengan administrasi yang menumpuk.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, Bapak Nadiem Makarim atau biasa disapa publik dengan panggilan akrab Mas Menteri, banyak mengeluarkan gebrakan serta kebijakan-kebijakan baru, diantaranya yaitu dihapuskannya Ujian Nasional, Program Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka. Hal tersebut tentu saja kami respon dengan baik, kami tidak mempermasalahkan tiap ganti Menteri pasti ganti kebijakan, toh kebijakan yang dikeluarkan Mas Menteri mampu mengakomodir juga memberikan solusi terbaik bagi setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mengatasi “Learning Loss”.

Saya beserta seluruh rekan-rekan guru di SMPN Satu Atap Cibulan sangat tertarik untuk mendalami arti kata Merdeka Belajar yang sesungguhnya. Kami tidak merasa kesulitan dalam mempelajari Program Merdeka Belajar tersebut karena seluruh guru dapat mengakses serta mengikuti pelatihan-pelatihan mandiri di SIM-PKB maupun di Platform Merdeka Belajar yang difasilitasi oleh Kemendikbud Ristek. Betul sekali apa yang disampaikan oleh Ditjen Paud Dikdasmen Bapak Iwan Syahril ketika kami menyimaknya dalam pelatihan mandiri Merdeka Belajar, apa yang beliau kutip dari Ki Hadjar Dewantara mengenai Tut Wuri Handayani, Ing Ngarsa Sung Tuladha dan Ing Madya Mangun Karsa, serta bahwasannya setiap murid mempunyai keunikan tersendiri, ibarat kita menanam padi maka tidak akan berubah menjadi jagung, maka setiap guru harus memahami apa arti dari kata Merdeka Belajar sesungguhnya dan Kurikulum Merdeka dapat dijadikan solusi bagi sekolah kami dalam meningkatkan mutu pendidikan serta mewujudkan Pelajar Pancasila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *