Sorotjakarta,-
Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, bertekad untuk merevitalisasi sorgum sebagai sumber ketahanan dan kemandirian pangan lokal.
Sorgum yang dahulu menjadi sumber karbohidrat warga Manggarai kini kondisinya hampir punah, melihat kondisi ini maka para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Lembor (APEL), menggelar panen sorgum yang di pusatkan di kampung Pocokoe, Desa Ngancar.,Kecamatan Lemnor. 3/3/2018.
Acara panen raya di hadiri oleh Bupati Manggarai Barat Agustinus CH Dula dan Wakil Bupati Maria Geyong, serta di dampingi oleh tujuh Kepala Dinas dan perwakilan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) sebagai lembaga yang mendampingi APEL dalam budidaya kembali sorgum, di Manggarai Barat.
“Ini sebuah revolusi. Di mana, kita melihat sendiri hasil panen sorgum di lapangan, karena itu saya resmikan Desa Ngancar ini sebagai desa sorgum,” ujar Agustinus, kedepannya Pemkab Manggarai Barat akan memberikan perhatian khusus bagi pengembangan sorgum di kecamatan Lembor,” ucap Agustinus.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Anggalinus Apul akan mengembangkan pangan lokal seperti sorgum ini, karna Manggarai Barat ini mempunyai banyak lahan kering yang sangat cocok untuk budidaya sorgum.
“Dinas Pertanian Manggarai Barat pada tahun 2019 akan memprogramkan pengembangan sorgum seluas 50 hektar,” tambah Anggalinus.
Direktur Komunikasi dan Penggalangan sumber Daya KEHATI Fardila Astari,
mengatakan, dalam Gerakan Koridor Pangan Lokal di Flores ini KEHATI
menggandeng sejumlah stakholder, baik swasta, pemerintah, lembaga penelitian, maupun perguruan tinggi.
Dalam hal ini KEHATI menggandeng HINO Motor Indonesia untuk gerakan penanaman kembali sorgum di Flores, sebagai bentuk program corporate social responsibility (CSR).(yurike)
